Lomba Selongsong dan Kupat Opor di Gedongkiwo

Potong Kupat oleh Mukti Wulan dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta disaksikan Camat Mantrijeron sebagai simbo di mulainya kirab kupat raksasa

Jogjatoday – Expoliner Gedongkiwo Yogyakarta, bersama Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, mengadakan Festival Selongsong dan Kupat Opor, pada Sabtu (15/6) di Ndalem Cokrosenan, Gedongkiwo, Yogyakarta. Festival diisi dengan beberapa kegiatan, antara lain Lomba membuat Selongsong Kupat , Penyajian Kupat Opor, Lomba Kolase Daur Ulang Anak-anak, Gelar potensi Seni, Kerajinan, Kuliner dan kirab Kupat Raksasa.

 

Pada kesempatan tersebut, Windarmoko Bromo dari Expoliner, mengungkapkan bahwa acara Lomba Selongsong dan Kupat Opor, dimaksudkan untuk melestarikan tradisi membuat selongsong Kupat dan Opor, yang biasanya dilakukan masyarakat pada bulan Syawal. Tradisi ini menurut W Bromo, dirasa semakin luntur, karena perkembangan jaman. Untuk itu Expoliner mengadakan lomba, dengan harapan masyarakat sadar dan tergerak untuk melestarikan tradisi Kupatan, yang merupakan budaya Jawa.

 

W Bromo juga mengungkapkan bahwa Festival bisa menjadi wahana untuk menampilkan potensi masyarakat Gedongkiwo dibidang kuliner, kerajinan, dan seni. Seperti ditampilkannya produk Daur Ulang, Seni Hadroh, Tari Anak2, dan potensi yang lain. Pada saat yang sama Bregada Niti Manggaala dari Kampung Wisata Sekar Niti, melakukan kirab Kupat Raksasa mengelilingi wilayah Gedongkiwo, diikuti beberapa kelompok seni.

 

Secara simbolik, Kirab dimulai dengan pemotongan Kupat , oleh Mukti Wulan dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta disaksikan Camat Mantrijeron, Subarjilan dan Lurah Gedongkiwo, Eni Sutaryati dan segenap pengurus Expoliner.

 

All Photo & Text by NORWIND NW for jogjatoday.com

 

Hari Tari Sedunia 2019 di Museum Ulen Sentalu

Hari Tari Sedunia 2019
Tari Srimpi Rangu-Rangu ditarikan oleh Kridha Beksa Wirama

Jogjatoday – Hari Tari Sedunia ( World Dance Day) sudah dicanangkan sejak tahun 1982 oleh Lembaga Tari Internasional CID-Counseil International de la Danse. Tujuannya yakni untuk mengajak seluruh warga dunia berpartisipasi dalam menampilkan beragam tarian negara mereka. CID bersama dengan UNESCO menjadi wadah bagi warga dunia untuk mementaskan pertunjukan tari dari budaya mereka. Dengan begitu, diharapkan semua generasi muda dapat terus melestarikan budaya melalui seni tari.

Sosialisasi peringatan hari tari makin gencar dilakukan di awal 2007, yakni dengan berfokus pada anak-anak. CID meminta seluruh anak sekolah untuk berpartisipasi dalam lomba menulis esai tentang tarian di negara mereka, melukis bertemakan tari, hingga lomba menari di jalanan.

Sejak saat itu, Hari Tari makin mendapat ruang dan diapresiasi warga. Banyak pertunjukan tari diadakan untuk memeringati hari tersebut, tidak terkecuali di Indonesia. Di pelosok Indonesia juga ikut bergembira merayakan Hari Tari Sedunia.

Museum Ulen Sentalu Yogyakarta juga ikut berpartisipasi merayakan Hari Tari Sedunia tanggal 29 April mendatang biarpun pertunjukan tarinya di adakan pada Sabtu, 27 April 2019.
Tema yang diangkat untuk tahun ini adalah #GegaraMenari “urip mawa urup, urip hanguripi”. Salah satu pepatah Jawa yang bermakna sangat dalam yaitu, hidup dengan semangat, hidup memberi hidup. Tema ini mencerminkan bahwa dari awal tari telah menjadi entitas yang menyatu dengan kehidupan masyarakat hingga akhirnya tari bisa menghidupi masyarakat, membangun citra bangsa menjadi bangsa yang santun, beradab, mulia dan bermartabat.

Pertunjukan Tari di Museum Ulen Sentalu digelar mulai pukul 10.00 WIB yang menampilkan Tari Manunggaling Rasa oleh Pawiyatan Museum ULan Sentalu kemudian dilanjutkan Tari Corak Ing Canthing dan Suci sang Pencipta oleh Sanggar Tari Lintang Kaliurang. Pengisi berikutnya adalah Sanggar Tari Kridha Beksa Wirama yang menampilkan tari Golek Nawung Asmara dan Tari Srimpi Rangu-Rangu. Kemudian dilanjutkan Tari Wiyama Pancaroma Nuraga oleh grup Candrasa dan di akhiri dengan menari bersama semua penonton dan penari pengisi.

Terlihat antusias penonton yang memadati tempat duduk yang disediakan oleh Museum Ulan Sentalu . Hal ini menandakan bahwa penikmat tari dan penari sudah mulai mengena ke anak-anak muda atau kalangan milenial. Sehingga diharapkan mereka dapat melestarikan warisan budaya dari pendahulu-pendahulunya khususnya tari-tarian nusantara.

Pentas Budaya Pangrupukan 2019 dengan tema “Wonderful Hindunesia”

Jogjatoday – Indonesia memiliki semboyan yang begitu dalam yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”. Semboyan tersebut tidak hanya sebuah untaian kata, melainkan kalimat yang bermakna sangat dalam. Kalimat yang memiliki arti dan menggambarkan keadaan Indonesia. Keberagaman suku, agama, ras, golongan, seni, dan budaya. Indonesia sebagai negara yang multikultur, tentu dijadikan negara tujuan wisata turis asing. Pemuda Hindu Klaten melalui Pasraman Wisnu Sakti Tambakan bekerjasama dengan Keluarga Mahasiswa Hindu Dharma (KMHD) UGM berusaha mengambil peran untuk melakukan kegiatan Pentas Budaya Pangrupukan di Candi Prambanan.

Pangrupukan adalah salah satu rangkaian Hari Raya Nyepi, yang dilaksanakan sore hari setelah upacara Tawur Agung Kesanga. Secara harafiah, upacara pengrupukan yaitu menyebar – nyebarkan nasi tawur, mengobori rumah dan seluruh pekarangan serta bangunan suci, dan memukul benda – benda apa saja yang dapat menimbulkan suara gaduh dan ramai. Pentas Budaya Pangrupukan 2019 mengambil tema “Wonderful Hindunesia : The Inspiring Prambanan”. Tema tersebut berarti bahwa keindahan dan kesenian Hindu dapat dinikmati oleh semua orang. Terinspirasi dari beberapa relief alat music yang terdapat di pagar langkan luar Candi Siwa, Prambanan. Harapannya, sajian music etnik yang akan ditampilkan dapat memberikan nuansa baru bagi pengunjung. Terlebih sajian music etnik akan berlatarbelakang mahakarya Candi Prambanan pada malam hari.

Pangrupukan 2019 akan menampilkan sajian budaya, diantaranya :

  • Atraksi Ogoh – ogoh
  • Fire Dance
  • Music Etnik Hindu Nusantara
  • Tradisional Dance
  • Upacara Pangrupukan (membakar ogoh – ogoh).

Kelima acara tersebut akan dikemas menjadi sebuah tarian dan music Hindunesia dalam sebuah koreografi yang menggambarkan keragaman music etnik dan gerak tarian Hindunesia. Serta akan diakhiri dengan pembakaran ogoh – ogoh.
Acara pangrupukan akan menampilkan kesenian dari Sunda Wiwitan, Wonosobo, Bali, NTT, Kalimantan. Pengisi acaranya ialah Maywinda (Koreografer Gentawil Art), Anggi Renaldi Dayak Kaharingan, Serat Swara (Sunda Wiwitan), Rick Pingga (Kupang-NTT), Sangar Ngesti Laras (Wonosobo), Supriyadi & Wiweka Ethnika (Jawa – Bali), juga akan penampilan special dari Sri Yamuna Ismayawati (WNI keturunan Amerika) dan Musik Hindu India.

Donasi Penonton Pentas Budaya Pangrupukan :

  • Kategori anak usia di atas 5 tahun dibawah 10 th Rp 35.0000,- fasilitas Minum.
  • Kategori Silver Tiket Rp 100.000,- fasilitas Snack dan Minum
  • Kategori Gold Tiket Rp 150.000,- fasilitas Snack dan Minum dan duduk di kursi.

Penonton yang berminat juga dapat memainkan ogoh – ogoh di arena pertunjukan. Ayoo.. tunggu apa lagi, segera dapatkan tiketnya di CP yang tertera atau tiket dapat dibeli melalui https://lokal101.com

Pementasan Perdana Drama Tari Legenda Roro Jonggrang

Roro Jonggrang
Pementasasn perdana Drama Tari Legendra Roro Jonggrang di Gedung Trimurti prambanan

Jogjatoday – Roro Jonggrang adalah merupakan cerita rakyat yang terkenal di Pulau Jawa. Cerita rakyat ini berkisah tentang asal mula terjadinya candi Prambanan. Berawal dengan kekalahan Prabu Damarmoyo oleh Prabu Boko ayahnda Roro Jonggrang. Dengan kekalahan itu berceritalah dia pada anaknya Bandung. Bandung sangat marah akhirnya menantang Prabu Boko dan mengalahkannya. Karena kekalahan tersebut Bandung menduduki Kerajaan Prambanan dan pada saat itulah Bandung melihat sesosok wanita cantik jelita anak Prabu Boko yang bernama Roro Jonggrang. Bandung menaruh hati kepada Roro Jonggrang. Tanpa pikir panjang, Bandung memanggil Roro Jonggrang dan melamarnya. Karena Roro Jonggrang tahu bahwa Bandung adalah pembunuh ayahnya maka dia memberikan syarat yang berat untuk melamarnya yaitu dengan meminta dibangunkan 1000 candi dalam waktu semalam. Dari sinilah petaka muncul, bandung dan prajurit setan gagal membangun candi yang ke 1000 karena Roro Jonggrang menyuruh dayang untuk membakar jerami, menebar bunga dan membunyikan gejlok lesung sehingga prajurit setan mengira sudah pagi. Karena kemarahan akibat di tinggal oleh prajurit setan tersebut sehingga Bandung marah kepada Roro Jonggrang dan mengutuk dia menjadi patung di candi ke 1000. Candi ke 1000 tersebut saat ini di beri nama Candi Roro Jonggrang dan yang lainnya diberi nama Candi sewu.
Begitulah kisah Drama Tari Legendra Roro Jonggrang yang dipentaskan perdana di Teater Trimurti, Candi Prambanan Minggu, 25/11/2018 kemaren. Tarian ini di sutradarai oleh Wisnu Aji dan koreografer nya adalah Gambuh, Endra dan Fendy. Tarian tersebut berdurasi 60 menitan dan melibatkan kurang lebih 40 penari yang berusia dibawah 25 tahun. Dibutuhkan waktu kurang lebih 3 bulanan untuk persiapan pembuatan tari tersebut.
“Tarian ini tidak melulu tradisional tetapi dikolaborasi dengan tarian kontemporer. Awalnya pihak PT TWC memberikan alternatif tarian selain Sendratari Ramayana yang sudah terkenal ke klasikannya untuk dinikmati oleh anak-anak milinial akan tetapi setelah ditampilkan ke masyarakat ternyata orang-orang tua juga tertarik untuk menikmati tarian tersebut. Drama Tari ini merupakan campuran dari tarian kontemporer, hip hop, breakdance, love dance, dan dilengkapi dengan Video Mapping serta tata cahaya yang menarik,” kata Chrisnamurti.

Drama tari Legenda Roro Jonggrang ini direncanakan akan di pentaskan secara rutin sebanyak 10 kali dibulan Desember 2018. Dan kemudian di bulan Januari pementasan drama tersebut di hentikan sementara untuk mengevaluasi dan mempelajari kekuarangan serta kelebihan Drama Tari Legenda Roro Jonggrang.
Untuk bisa menikmati Drama Tari Legendra Roro Jonggrang tersebut PT. TWC memberikan pilihan Paket Reguler adalah Kelas Khusus Rp. 250.000, Kelas 1 Rp. 150.000, Pelajar Rp. 50.000 dengan makan Siang Reguler nambah Rp. 100.000 dan pelajar Rp. 50.000.
Paket khusus hari Sabtu untuk Kelas Khusus Rp. 300.000, Kelas 1 Rp. 200.000 dan Pelajar Rp. 100.000 yaitu mendapatkan tiket pertunjukan + Makan di Rama Shinta Garden Resto. Sedangkan untuk Paket Private Show menggunakan gedung Trimurti Rp 45.000.000 dan Menggunakan Kinari Rp. 60.000.000. Untuk Private show harga diluar makan. Paket Private Performance Dinner (Package) Maksimal 150 orang Rp. 50.000.000 dan untuk min 150 orang per pax Rp 350.000. Adapun Jadwal pentas Desember 2018 Gedung Trimurti pukul 14.00 -15.00 WIB pada Hari Sabtu tanggal 1. 8, 15. dan 22 sedangkan untuk reguler adalah pada hari Selasa (25), Rabu (26), Kamis (27), Jumat (28), Sabtu (29), dan Minggu (30/11/2018). Untuk Keterangan lebih detail bisa menghubungi Acmad Muchlis di (0274) 496402 dan Fax di (0274) 496404.

Topeng-Topeng di Pawai Pembukaan FKY 30

FKY30
Pemukulan Tenong oleh SEKDA DIY Gatot saptadi di ikuti dengan pemukulan kentongan oleh tamu undangan

Jogjatoday – Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ke-30 telah resmi dibuka dengan di tandai pemukulan kenong oleh Sekretaris Daerah DIY Gatot Saptadi yang kemudian diikuti oleh semua tamu undangan dengan memukul kentongan secara bersamaan, Senin (23/7/2018) sore. Dalam Sambutannya SekDa DIY Gatot Saptadi berharapkan penyelenggaraan FKY ini menambah kreatifitas dan untuk kerja para seniman, budayawan, untuk seluruh masyarakat secara maksimal. Selain SEKDA DIY tampak juga hadir tamu kehormatan dalam acara ini Ketua DPRD DIY Yoeke Indra Agung dan wakilnya Arif Hartanto, juga Kristiana Swasti (Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah DIY), Didik Purwadi (Asisten Keistimewaan Sekretariat Daerah), Benny Suharsono (Kepala Bidang Protokol Biro Umum Humas dan Protokol ) dan masih banyak yang lain.

Usai pemukulan kentongan secara bersama-sama oleh tamu undangan kemudian dilanjutkan dengan penampilan Kelompok musik Senyawa. Kemunculan kelompok yang beranggotakan Rully Sabhara (vocal) dan Wukir Suryadi yang saat itu membawa alat musik bambu wukir didahului dengan kepulan asap lalu diikuti dengan permainan lampu yang berkedip-kedip tidak beraturan memperkuat suasana dramatis yang dihantarkan musik mereka. Suasana jalan Malioboro mendadak berubah dengan adanya penampilan mereka saat itu.

Menyengatnya matahari siang itu nampaknya tidak menyurutkan semangat masyarakat Yogyakarta yang mulai menyemut sejak jam 14:00 WIB di kiri kanan jalan Malioboro. Ribuan warga memadati jalanan untuk menyaksikan pawai pembukaan FKY 30. Sebanyak 29 kontingen yang tampil itu melibatkan ribuan orang dengan berbagai kostum tradisional dan mayoritas menggunakan topeng. Bahkan kendaraan-kendaraan mereka juga dihiasi dengan topeng sehingga menambah kemeriahan pawai tersebut dan lebih menekankan pada karnaval topeng. Kontingen pawai ini tidak hanya berasal dari Yogyakarta dan sekitarnya, terlihat ada yang berasal dari Provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Komunitas NTT Waikabubak, dan dari Komunitas Papua. Diantara para peserta pawai terdapat kontingen Maskot FKY yang menampilkan Topeng Panji. Topeng Panji ini menggambarkan kelahiran bayi dari golongan bangsawan yang memiliki wibawa dan ketenangan seorang pemimpin. Dalam falsafah Jawa, Panji mempunyai gambaran filosofi budi luhur serta penyerahan diri kepada Tuhan. Hal tersebutlah yang membuat manusia hidup dengan ketenangan batin sehingga berguna bagi masyarakatnya.
Selain Topeng Panji, ada pula Maskot FKY Topeng Kontemporer yang ingin menyampaikan pesan bahwa sebuah kebudayaan yang maju adalah kebudayaan yang berkembang dan dapat menerima perubahan kemajuan. Namun agar modernitas tidak menjadi merusak, seharunya memang harus selalu menjaga yang sudah menjadi masa lalu sambil saling berjalin silang dengan apa yang terjadi saat ini.

Malam harinya, mulai 19:00 WIB bertempat di Planet Pyramid Jalan Parangtritis, digelar Panggung Pasar Seni yang kali ini dimeriahkan oleh Paguyuban Seni Tari Beksa Wiraga Satria, Obah Mamah, Orkes Pensil Alis, Sido Rukun Gunungkidul (SRGK). Selain itu digelar pula Panggung Jalanan, yang dimeriahkan Risky Bandar, Manusia Patung, dan Doa Ibu.

FKY 30 akan berlangsung mulai hari ini hingga 18 hari ke depan, tepatnya pada 9 Agustus 2018 yang akan dimeriahkan berbagai macam program dan kegiatan seni dan budaya di beberapa titik lokasi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pawai Mesemeleh sebagai pembeda FKY 30

FKY30
Roby Setiawan selaku Ketua Umum FKY sedang memberikan penjelasan di prescon kemarin di Planet Pyramid

Jogjatoday – Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) kembali digelar. Seperti tahun lalu, event tahunan ini diadakan di Planet Pyramid Jalan Parangtritis KM 5,5 Sewon. FKY 30 digelar selama 18 hari dimulai dari tanggal 23 juli sampai dengan 9 Agustus 2018. FKY 30 kali ini mengangkat tema Mesemeleh merupakan diambil dari dua kata yaitu Mesem dan Semeleh, dalam bahasa Jawa, mesem berarti senyum dan semeleh berarti ikhlas atau nrimo. Semeleh dalam FKY 30 ini dipresentasikan sebagai kedewasaan FKY 30. Sehingga bisa menyajikan hiburan dan kesenian yang menarik, edukatif serta mengikuti perkembangan zaman.
Seperti biasa pembukaan FKY 30 akan di ramaikan dengan Pawai Seni di sepanjang Jalan Malioboro. Untuk pawai seni kali ini semua peserta akan mengenakan topeng. ”Topeng-topeng tersebut menggambarkan sifat manusia yang berbeda-beda. Konsep ini sebagai wujud penerimaan kita atas perbedaan,” jelas Roby saat konferensi pers FKY 30 di Planet Pyramid Jumat (20/7).
Adapun perbedaan dari tahun sebelumnya adalah di gelarnya 2 kali pawai. Pertama adalah pawai seni pada pembukaan FKY 30 dan kedua pada tanggal 7 Agustus 2018 yang akan di ikuti perwakilan dari kabupaten-kabupaten dan kota yogyakarta. Pawai ke 2 tersebut di beri nama Pawai Mesemeleh.
Kegiatan FKY30 meliputi kegiatan antara lain; pameran dagang, panggung pertunjukan, panggung senyap, workshop, diskusi kreatif, pameran seni rupa, bioskop FKY, pertunjukan teater, pembacaan prosa, pertunjukan kontemporer dan menampilkan berbagai hasil kerajinan UKM. Melalui program-program tersebut diharapkan dalam perhelatan FKY 30 muncul berbagai karya yang memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat.
FKY merupakan etalase dari kesenian Yogyakarta yang berusaha beradaptasi dengan zaman yang ada saat ini maka tema juga harus menggambarkan kondisi era sekarang. Penentuan tema ini juga melalui proses diskusi panjang dari kami sehingga lahirlah Mesemeleh,” ungkap Roby Setiawan selaku Ketua Umum sekaligus Direktur Seni dan Kreatif FKY 30.
Adapun harapannya Kegiatan festival tahunan dapat menyedot jumlah wisatawan yang berkunjung ke kota Yogyakarta, baik domestik maupun mancanegara. Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) ini rutin diadakan setiap tahunnya antara bulan Juni hingga bulan Agustus yang merupakan peak season atau musim liburan bagi wisatawan asing dan domestik.