Nuansa Estetika : 200 Karya Seni Rupa Penuhi Taman Budaya Yogyakarta

Nuansa Estetika 2019
Joko Pekik memberikan tanda tangan sebagai di bukanya pameran seni rupa Nuansa Estetika di TBY

Jogjatoday – Menandai satu dasawarsa, Edu Art Forum kembali menyelenggarakan pameran seni rupa tingkat nasional. Bertajuk Pameran Seni Rupa Tingkat Nasional X – 1 Dasawarsa Edu Art Forum “Nuansa Estetika”, pameran digelar di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 25 – 30 Agustus 2019.

Lebih dari 170 peserta dari berbagai daerah meramaikan pameran ini. Selain para pengajar seni rupa dari berbagai institusi pendidikan, para peserta juga banyak yang berprofesi sebagai perupa profesional, pensiunan, arsitek, dan lain-lain.

Djoko Pekik dalam pidato sambutan pembukaan pameran mengatakan bahwa setiap seniman yang berkarya seni pasti punya maksud sesuatu. Mau bicara apa melalui karyanya? Mungkin marah, mungkin senang, dan lain-lain. Kalau sudah keranjingan berkarya berarti sudah berniat berbicara melalui bahasa seni rupa.

“Anda yang sudah melalui pendidikan di sekolah seni harus merasa sudah digembleng untuk siap berbicara dengan bahasa seni. Kalau berbicara tidak dengan bahasa artistik maka tidak ada gunanya,” tutur Djoko Pekik, Minggu (25/8/2019) malam.

“Sebenarnya Jogja itu sudah lelah, karena ada ratusan pameran di berbagai pelosok di kampung, sawah. Seperti ArtJog itu menurut saya sudah di luar seni. Mereka sudah tidak bicara dengan bahasa seni lagi. Ini kritik saya buat ArtJog,” tambah maestro seni lukis tersebut.

Lebih dari 200 karya, baik dua dimensi maupun tiga dimensi, dipajang di ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta. Tak ada tema khusus dari karya yang dipamerkan, sehingga para peserta bebas berkreasi dengan tema yang mereka kehendaki.

Lukisan-lukisan bertema mooi indie ditampilkan oleh sejumlah perupa. Diantaranya perupa kelahiran Demak, Ahmad Ahid dengan karya “Pagi yang Cerah” serta Tedjo Yuwono, perupa Yogyakarta, dengan karya berjudul “Gunung Merapi” dan “Air Terjun”. Selain itu, lukisan potret tokoh maupun sosok wajah perempuan juga banyak mewarnai pameran ini.

Salah satu peserta yang baru pertama kali ikut pameran Edu Art Forum, Hendy Prayudi, menyajikan karya lukis berjudul “Menggelar Resah” yang menggambarkan suasana pasar tradisional.
“Bisa dibilang pasar tradisional sedang resah akan nasibnya. Pasar tradisional kini semakin terdesak oleh mall dan toko modern. Padahal pasar tradisional merupakan pusat ekonomi kerakyatan yang harus selalu didorong keberlangsungannya,” ungkap perupa dari Jawa Timur tersebut.

Susilo Dwi P., seniman asal Yogyakarta memamerkan karya berjudul “Javanese Kris” untuk menyatakan bahwa keris sebagai obyek yang sangat dekat dengan kehidupannya. Keris juga memiliki arti penting baginya karena bagian dari budaya adiluhung. Dalam karyanya tersebut Susilo menggunakan warna-warna yang lembut, tidak mencolok, karena dia mengaplikasikan warna-warna yang sering digunakan dalam batik warna alam.

“Selain menggemari keris dan lukis, saya memang menggeluti kerajinan batik warna alam. Jadi inspirasi dalam berkarya bisa saling melengkapi antara melukis dan membatik. Kadang lukisan saya terinspirasi batik, dan batik terinspirasi lukis,” ujarnya.

Sementara itu perupa asal Tasikmalaya, Yusa Widiana, menyajikan dua karya lukis berjudul “Abu-abu 1” dan “Abu-abu 2”. Ia mengaku mendapat inspirasi setelah melihat kertas yang tidak digunakan. Karya lukis mix-media miliknya memang terbuat dari bubur kertas, cat acrylic, dan kanvas.

Karya yang cukup mencolok, baik dari ukurannya yang besar aaupun dari warna-warna menyolok yang ditampilkan, disajikan oleh Taat Joeda, perupa senior asal Bandung. Menurut Taat Joeda, konsep karyanya yang berjudul “Semak Itu Indah” berbicara tentang keindahan dari rumput-rumput liar.

“Kalau bunga indah itu sudah biasa. Tapi kalau rumput semak-semak kan jarang dilihat keindahannya. Padahal kalau diperhatikan tidak kalah indahnya. Saya menggunakan warna-warna yang seperti ini karena awalnya saya menggeluti desain interior. Jadi lukisan ini bisa masuk ke semua ruangan,” terangnya.

Dilihat secara umum, karya-karya yang ditampilkan memang sangat beragam, baik dari segi konsep, ukuran, media yang digunakan, kapasitas teknik, hingga kualitas karya keseluruhan. Namun, sesuai dengan tema pameran “Nuansa Estetika”, nuansa keindahan terpancar dari masing-masing karya yang dipamerkan. Ya, keindahan adalah sesuatu yang relatif.

Pementasan “Jembatan Tak Berujung – Mahabharata 1.5” karya Hiroshi Koike di TBY

Mahabharata 1.5 - Jembatan tak berujung
Permainan dadu antara Pandawa dan Kurawa atas ide jahat dari Sengkuni

Jogjatoday – Narasi epik Mahabharata telah ditulis berabad-abad yang lalu. Namun kisah legendaris ini terus menerus ditampilkan dalam setiap bentuk seni dengan versi yang berbeda di masing-masing tempat.

Hal ini membuktikan bahwa epik Mahabharata masih dipuja sampai saat ini, bukan hanya karena keagungan puitisnya, namun karena kisah-kisah dalam Mahabharata mempunyai relevansi yang kuat di kehidupan sehari-hari sampai kini.

Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.

Hiroshi Koike di kesempatan temu media di Padepokan Bagong mengatakan, “Semua orang harus mengetahui dan mempelajari apa itu Mahabharata sehingga bisa menyikapi hal-hal yang terjadi disekitar kita dengan lebih bijaksana,. Dan hal inilah yang melandasi Hiroshi Koike untuk menciptakan karya tentang Mahabharata.

Dimulai Mahabharata Chapter 1 tahun 2013 dipentaskan di Kamboja dan Vietnam, kemudian Mahabharata Chapter 2 tahun 2014 di India, Malaysia, dan Indonesia. Pada Tahun 2015 Mahabharata Chapter 2.5 yang dipentaskan di Thailand, China, Philipina, dan Jepang. Di tahun 2017 kembali di pentaskan Mahabharata Chapter 4 di Thailand dan Jepang.

Di tahun 2019 kembali Hiroshi Koike menciptakan karya yang bertajuk “Jembatan Tak Berujung – Mahabharata 1.5”. Beliau menjelaskan karyanya kali ini adalah ringkasan dari chapter 1 dan chapter 2 sehingga disebut dengan Mahabharata 1.5. Dalam chapter ini lebih menceritakan bagaimana manusia diciptakan sampai menjelang perang kurusetra.

Diawali dengan Pernikahan Prabu Sentanu dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, tetapi Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda beberapa lama yang kemudian menikah lagi dengan Dewi Satyawati, puteri nelayan.

Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi Byasa, kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra (dari Ambika).

Inilah sepenggal cerita dari pentas Mahabharata 1.5 dan kemudian cerita ditutup dengan adegan perang di Kurukshetra yang merupakan bagian penting dari wiracarita Mahabharata, dilatarbelakangi perebutan kekuasaan antara lima putra Pandu (Pandawa) dengan seratus putra Dretarastra (Korawa).

Karya Mahabharata 1.5 di pentaskan selama 2 hari di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 22 dan 23 Agustus 2019 yang lalu. Terhitung 9 bahasa yang digunakan dalam pementasan tersebut baik bahasa nasional maupun bahasa daerah. Penari-penari dalam pementasan ini terdiri dari berbagai negara seperti : Thailand, India, Jepang, Indonesia, dan Malaysia.

Penonton sangat antusias menikmati karya tersebut terbukti dengan tiket yang terjual habis sebelum acara dan kursi yang penuh di baris penonton. Bahkan mereka tidak beranjak dari kursi sebelum acara selesai. Karya tersebut tergolong berdurasi lama berkisar 3 jam dengan jeda istirahat 15 menit di tengah-tengah acara. Namun dengan pengemasan yang baik ditambah dengan penambahan elemen-elemen seni tradisi dari berbagai negara sehingga membuat pertunjukan tersebut tidak menjemukan.(YK)

Revitalisasi Seni Puro Pakualaman oleh Taman Budaya Yogyakarta

Revitalisasi dan Pendokumentasian Tari Bedhaya Angron Akung di Puro Pakualaman

Jogjatoday – Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menyelenggarakan revitalisasi seni tari sebagai upaya menghidupkan kembali kesenian-kesenian yang sudah lama tidak ditampilkan.

Tujuannya agar generasi saat ini dan generasi di masa yang akan datang dapat mempelajari budaya tersebut. Salah satu realisasi program TBY tersebut melalui seksi penyajian dan pengembangan kebudayaan yaitu revitalisasi seni khusus untuk Puro Pakualaman yang dilaksanakan malam ini Kamis, 22 Agustus 2019.

Adapun bentuk revitalisasi seninya adalah tari Bedhaya Angron Akung dan tari Lawung Alit. “Untuk Bedhaya Angron Akung dibutuhkan persiapan yang lumayan lama, kurang lebih 9 kali pertemuan, “ujar Suroyo kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Kebudayaan. Penari Bedhaya Angron Akung berjumlah 7 perempuan dan berdurasi kurang lebih 40 menit.

Bedhaya Angron Akung, merupakan tari putri kelompok yang diperagakan oleh tujuh orang. Setiap penari secara simbolis filosofis mempergerakan tokoh tokoh tertentu. Bedhoyo Angron Akung diciptakan oleh KGPAA. Paku Alam II (1829 – 1858) dan direkonstruksikan/digubah kembali pada masa KGPAA. Paku Alam VIII (1937 – 1998).

Pergelaran biasanya dilaksanakan untuk menyambut tamu-tamu kehormatan Pura Pakualaman dan memperingati ulang tahun Sri Paku Alam. Sesuai dengan namanya, tari ini bersumber dari cerita Panji Angronakung. Tarinya bernarasi simbolis tentang Raden Panji Inu Kertapati ketika dalam penyamaran untuk mencari Dewi Anggraeni.

Bertolak dari penciptaan oleh KGPAA. Paku Alam II dan perkembangannya di Ndalem Puro Pakualaman sehingga Revitalisasi seni khususnya tari Bedhaya Angron Akung ini dilaksanakan di Pendopo Puro Pakualaman tepatnya di Bangsal Sewatama.

Dalam Sambutan acara Revitalisasi dan pendokumentasian dua tari tersebut Pengageng Pariwisata dan Kebudayaan Pakualaman Kanjeng Pangeran Haryo Indrakusuma juga mengharapkan agar revitalisasi ini dapat menjadi jembatan untuk generasi mendatang agar bisa mengetahui betapa para leluhur kita telah menciptakan hal-hal yang begitu indah dan begitu agungnya karya-karya seni dalam hal ini adalah seni tari dan seni karawitan.

(YK)

Teater Gandrik : “Abon Sripah” Abon Daging Koruptor yang Tidak Bisa Dikubur

Teater Gandrik "Para Pensiunan 2049"
Para penggali kubur sedang menggali tanah kuburan oleh Letterlijk ( Kusen Ali ) dan Zakelijk ( M. Yusuf

Jogjatoday – Diawali dengan perdebatan kecil keluarga dan teman dekat Doorstoot dengan Kerkop. Disini Doorstoot diperankan oleh Butet Kertaradjasa adalah seorang pemimpin negara yang berkuasa hingga dia meninggal selama 32 tahun, namun jenazahnya tidak bisa di kubur karena tidak memiliki SKKB (Surat Keterangan Kematian Baik-baik). Hal ini dikarenakan di curigai bahwa semasa hidupnya Doorstoot melakukan korupsi. Kerkop diperankan oleh Susilo Nugroho atau yang terkenal dengan Den Baguse Ngarso.

Kerkop meyakinkan kepada para pengantar jenazah bahwa para koruptor tidak akan dikubur baik-baik, karena koruptor merugikan rakyat dan negara maka koruptor akan dipenjara untuk mempertanggungjawabkan dengan negara sedangkan setelah menginggal untuk mempertanggung jawabkan dengan rakyat maka daging jenazah akan di buat ABON SRIPAH untuk pakan ternak dan PUNIK JETOR ( Pupuk Organik Jenasah Koruptor ) yang dikembalikan kepada masyarakat secara cuma-cuma.

Di negara tersebut berlaku Undang-undang PELAKOR ( Pemberantasan Pelaku Koruptor ) yang secara konstitusional mengharuskan siapapun yang mati memiliki SKKB. Tidak berbeda juga dengan Doorstoot karena di terbukti korupsi.

Akhirnya Doorstoot berupaya untuk mendapatkan SKKB dengan cara roh nya menghasut KPK ( Komisi Pertimbangan Kematian ). Bahkan dia membujuk kepada orang-orang terdekatnya seperti Vonis ( Feri Ludiyanto ), Slepen ( Gunawan Maryanto ), Hernia ( Jamiatut Tarwiyah ), Griseni ( Rulyani Isfihana ) dan yang lain untuk memfitnah Kerkop.

Disebabkan fitnahan dari beberapa kolega Doorstoot tersebut akhirnya Kerkop divonis mati padahal dia sudah membantah kepada semua orang kalau dia masih hidup tapi karena kekejaman fitnah tersebut argumen Kerkop kalah dan dia dikuburkan rame-rame oleh teman dan kolega Doorstood.

Itulah garis besar Pementasan Teater Gandrik di Taman Budaya Yogyakarta, Senin, 08 April 2019 yang berjudul “Para Pensiunan 2049”. Cerita ini berlatar belakang di Belanda tahun 2049, Adapun kenapa dipilih masa datang dimaksudkan agar lebih memberi ruang kreatifitas kepada semua pemainnya untuk berimprovisasi dan sebagai jalan tengah sehingga isu yang di angkat terlihat merupakan isu bersama bukan isu kelompok atau yang berkepentingan.

Ciri khas teater gandrik yang selalu membawakan karyanya dengan guyonan atau sindiran secara halus sangat mengena kepada penonton, terbukti dengan banyak tawa lepas dari mereka hampir semua penonton di TBY. Hal ini membuktikan bahwa beberapa penonton sudah bisa mencerna guyonan-guyonan dan sindiran-sindiran halus tersebut.

Biarpun Djaduk pernah menekankan bahwa Teater Gandrik bukan teater dagelan, jadi jangan mencari kelucuan. Mereka sendiri tidak berusaha untuk menjadi lucu, karena naskah lakonnya memang sudah lucu. Perlu diingat, kelucuan di sini dalam bentuk satir.

Namun tidak bisa disangkal memang penokohan teater itu pas karakternya dengan para pemain sehingga benar-benar bisa mengocok perut hampir semua penonton. Kelucuan-kelucuan materi dan spontanitas kata-kata mereka di sela-sela pementasan menghaluskan kritikan-kritikan pedas terhadap para koruptor dan pejabat-pejabat ataupun tokoh-tokoh di masyarkat saat ini.

Antusias penonton sangat terlihat dengan tiket yang sudah terjual habis bahkan panitia sampai menjual tiket lesehan untuk menampung penonton yang begitu banyak. Pementasan Teater Gandrik di Taman Budaya Yogyakarta terbilang sukses selama 2 hari di yogyakarta tanggal 8 dan 9 April 2019 kemaren. Untuk yang di Jakarta akan dilaksanakan tanggal 25-26 April 2019 di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta.

Celeng Siji Celeng Kabeh : Sebaris Bait Lagu Sri Krishna di TBY

Celeng Dhegleng
Musisi Sri Krishna sedang melantunkan lagu di Konser Kidung Nusantara di Taman Budaya Yogyakarta ( TBY ), Kamis, 07 Maret 2019

Jogjatoday – Musisi Sri Krishna yang lebih kerap disapa “Ncik” adalah seorang Pria kelahiran Wonogiri, hijrah ke Jogja, bergaul di kalangan manapun, mengamen sejak dini, suka hati berpindah-pindah sekolah/kuliah, membangun panggung dari café ke café, menawarkan kemana saja cita rasa baru dalam bermusik, hadir dalam single dan grup, bermain mandiri (independent) – di bawah manajemen – hingga kembali mandiri, koprol sampai salto njungkel bin njempalik memperjuangkan kesempatan untuk terus berkarya, dan kini merasa di tahap berbahagia dan selo, bersuka-cita mengamini kegagalan sebagai sebuah prestasi. Kemudian, titik penting mengenai sepak terjang si-Ncik yaitu buah kebersamaannya di kawasan rawan bernama Folk Mataraman Institute. Disinilah si Ncik menjabat hebat sebagai seorang Rektor.

Lagu-lagu Sri Krishna mengalir, dalam bermusik ia tak merencakan untuk mencapai target-target tertentu (misal berada di tangga nada lagu, panggung tertentu, atau jumlah penjualan album), ia ingin karya-nya sebagai suara hati, menurut ncik “ya memang begitulah keadaan-nya”. Contoh nyata-nya ia menciptakan sebuah lagu yang diunggah di akun soundcloud-nya dan membebaskan bagi siapapun yang ingin menggarap lagu itu, untuk digunakan dalam bentuk apapun juga. Sri Krishna sering hadir di berbagai panggung pameran, musiknya menghadirkan sajian eksperimental dalam bentuk kolaborasi yang sifatnya luas (tidak sekedar menyanyi bersama), sebagai contoh ada lagu dari lukisan Djoko Pekik berjudul Celeng Degleng, Kidung Nusantara bersama pelukis Nasirun, dan masih banyak lagi.

Pada konser kali ini di Taman Budaya Yogyakarta ( TBY ), Kamis, 07 Maret 2019, Ncik mengangkat tema Celeng Dhegleng. Tema Celeng Dhegleng sendiri bukan tanpa alasan kuat dibagikan ke pecinta musik. Saat ini bahkan setelah 20 tahun pasca reformasi, menurut dia manusia yang menyerupai celeng dengan rakusnya masih berkeliaran meski diibaratkannya induk sudah mati. “Banyak yang sekarang seperti celeng di negeri kita, kelihatannya lurus tapi nabrak-nabrak. Sekarang masih ada orang-orang seperti itu. Album ini ingin berusaha menendang siapapun yang mendengarkan,” kata Ncik. Karya Sri Krishna sendiri sepertinya menarik disebut musikalisasi Sastra Celeng yang mana merupakan penggabungan makna lukisan, tulisan dan musik. Pesan mendalam agaknya ingin disampaikan Krishna pada pendengar musiknya.

Lantunan lagu demi lagu sangat memukau penonton malam itu. Bahkan mereka beberapa ikut menyanyikan dan sangat menghayati isi lagunya. Sederetan lagu Menolak Lupa (Untuk Munir), Guru Bangsa (Hormat untuk Gus Dur), Sang Pelayan (untuk YB Mangunwijawa) juga dinyanyikan dengan di iringi dengan slide-slide di belakang panggung yang menambah kekhususan lagu tersebut.

Dalam deretan kursi undangan di depan banyak sekali tamu-tamu dari kalangan seniman-seniman, Romo Sindu, Jadug, Butet, Endah laras, Sruti Respati dan Gusti Prabukusuma juga tidak ketinggalan untuk menikmati sajian lantunan lagu dari Ncik sampe dengan selesai. Bahkan di pertengahan konser tersebut ternyata datang bapak Ganjar Pranowo Gubernur Jawa tengah yang memberikan kejutan kepada Ncik dengan memasuki TBY melalui belakang panggung. Beliau memberikan beberapa patah kata yang menceritakan pertemanannya dengan Sri Krishna. Disela-sela cerita tersebut beliau mengatakan kalau Gus Mus pernah mengatakan ketika Panglima menjadi politik situasi indonesia menjadi ramai, Setelah itu Ekonomi menjadi politik situasi Indonesia tetep ramai, kemudian reformasi kembali panglima menjadi politik dan situasi indonesia tetap ramai. Gus Mus berandai jika Kebudayaan menjadi politik pasti kebhinekaan akan tetap ada, keragaman budaya tidak akan punah dan masih banyak lagi.

Lantunan lagu kembali melanjutkan konser Ncik. Semua lagu yang dibawakan dan diciptakan oleh Sri Krishna menuturkan hal-hal yang ada dikeseharian hidupnya. Keadaan sosial dan politik yang semakin aneh di negeri ini banyak memberikan inspirasi musik dan lagunya. Seperti lagu berjudul “Ayo Lawan” yang menceritakan kondisi negeri ini yang semakin rapuh karena digerogoti para koruptor, dan tidak ada kata lain selain mengajak siapapun untuk melawan segala bentuk penggerogotan yang hendak menghancurkan bangsa ini. Lantunan lagu dengan lirik-lirik yang mengelitik dan iringan Orkerstra dan Paduan suara sangat sukses membawa penonton untuk menyelami semua lagu-lagu tersebut sampai tidak sadar kalau konser tersebut berakhir.

Tak Mudah Membawakan Karya Samuel Beckett

Teater Hari Hari Yang Indah 0 1

Kota- Pertunjukan Teater berjudul “Hari-Hari Yang Indah” yang digelar di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta, Jumat (25/11) tidak lah mudah untuk dibawakan. Sebuah karya teater klasik era 60an ini disutradarai oleh Citra Pratiwi sekaligus sebagai penulis naskahnya.

“Hari-Hari Yang Indah” mengangkat tema tentang eksistensi, relasi, dan batas hidup yang hadir melalui sebuah cerita tentang satu-satunya pasangan yang berhasil bertahan hidup setelah bumi berada di ‘ujung waktu’ dan mengalami malapetaka besar.

Nunung Deni Puspita yang memerankan tokoh Nana mengaku tak mudah membawa karakter dalam drama ini. Ia harus menahan gerak karena tubuhnya terhimpit ke dalam tanah, sementara keinginannya untuk tampil ceria melalui gerakan-gerakan menjadi terbatas.

Lain hal dengan Nigni yang diperankan oleh Muhammad Khan. Ia memerankan tokoh dalam drama ini yang lebih “nrimo” dan berserah diri menerima kenyataan. Tak banyak dialog yang ia bawakan karena memang seperti itu karakternya.

Sementara Citra Pratiwi yang menyadur karya novelis Irlandia ini sengaja memilih “Happy Days” yang diterbitkan pada tahun 1960 dalam pementasan teater kali ini. Ia tertarik untuk menggiring karya tersebut ke dalam negeri (Indonesia) dengan tema keseharian, seperti tentang memasak, makan dan sebagainya. Citra sebagai inisiator bersama tim menghadirkan gagasan artistik untuk mengembalikan teks-teks klasik sebagai bagian dari pergerakan seni kini.

Karya teater ini mengajak penonton untuk memasuki ilusi tentang akhir waktu. Peristiwa hadir dalam kisah Nigni dan Nana yang mencoba memaknai apa itu waktu jika ia hadir untuk  menciptakan momen yang bertujuan mencapai kebahagiaan. Karya teater berdurasi 60 menit ini hadir dalam bentuk duet dan menjadi sebuah karya yang menantang bagi pemeran wanita. [jogjatoday]

Teks dan Foto: rovitavare