JOGEDAN SELASA LEGEN SPESIAL IMLEK 2019

Jogjatoday – Dalam rangka menyambut Hari Raya Imlek 2019, Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa mempersembahkan:
JOGEDAN SELASA LEGEN SPESIAL IMLEK, yang akan diselenggarakan pada:

๐Ÿ“† Selasa, 5 Februari 2019
โฐ 19.30 WIB – Selesai
๐Ÿ˜ Pendopo Ndalem Pujokusuman
๐Ÿ“ Jl. Brigjend Katamso, Keparakan, Mergangsan, Kota Yogyakarta
๐Ÿ‘— Nuansa merah (bagi putri bisa mengenakan Kebaya Encim)
๐ŸŽซ TERBUKA UNTUK UMUM

Menampilkan:
๐ŸŽญ TARI KANG CHING WEE.
Penari: Koko Didik Nini Thowok, Anak Agung Putera Negara & Ni Nyoman Sudewi
๐ŸŽญ TARI RETNA ADANINGGAR
Penari: Cik Jinny, Cik Wawa, Cik Henny, Cik Yudith, Cik Putis & Cik Nita

Mari datang dan saksikan Jogeda Selasa Legen yang super Spesial ini, ajak sanak saudara, teman dekat, teman jauh, keluarga, rekan kerja, teman mbolang dan sekaligus pecinta seni pertunjukan semua, sampai jumpa di Pendopo Ndalem Pujokusuman dan salam budaya

HUT #5 Jogedan Selasa Legen YPBSM

jogedan selasa legen
hut #5 Jogedan Selasa Legen YPBSM.

Jogjatoday – Suasana Jogedan Selasa Legen pada Selasa (03/05/2018) malam tampak berbeda dari sebelum-sebelumnya. Puluhan orang memadati ndalem pujokusuman tersebut. Beberapa dari mereka memakai kebaya dan jarik dengan rambut digelung dan beberapa lainnya berpakaian biasa. Bahkan diantara orang-orang yang datang kali ini ada beberapa orang manca negara yang sengaja ingin melihat pementasan Jogedan Selasa Legen ini.
Berbeda dari Jogedan selasa legen biasanya karena pada jogedan kali ini bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke 5 Jogedan Selasa Tinggalan Rama Sas. Diawali dengan pemotongan tumpeng oleh Siti Sutiyah Sasminta Dipura, istri dari almarhum Romo Sas yang kemudian diserahkan kepada anaknya yang melanjutkan mengelola Yayasan Pamulang Beksan Sasminta Mardawa (YPBSM), kemudian disusul dengan tarian Renggomatoyo yang ditarikan oleh semua murid YPBSM, jogedan selasa legen kali ini juga menampilkan Golek Ayun-ayun oleh penari senior lulusan YPBSM dan Petilan Fragmen Menak Kelaswara Palakrama yang di pentaskan oleh Inul Angela Retno Nooryastuti sebagai Kelaswara, Istu Noorhayati (Adaninggar), Suhartanto (Jayengrana), Theofilus Suwantoro (Prabu Kelanjejali), dan Supriyanto (Burung Garuda). Seperti yang dikatakan Istu Noorhayati Koordinator Jogedan Selasa Legen, ” 24 tahun yang lalu kami menarikannya dengan format atau peran yang sama dan tentu saja dalam kondisi fisik yang jauh berbeda”. “Kebetulan kita berlima adalah pengelola YPBSM sehingga kita memutuskan untuk menarikan Menak Kelaswara Palakrama di HUT ke 5 Jejogedan Selasa Legen ini, ” tambahnya.
Petilan Fragmen Menak Kelaswara Palakrama ada menceritakan kecemburuan Dewi Ardaninggar ketika menyaksikan pujaan hatinya Jayengrana bermesraan dengan Dewi Kelaswara. Dari kecemburuan itulah pertempuran kedua putri itu terjadi yang kemudian di menangkan oleh Dewi Kelaswara. Dewi Ardaninggar pun tewas di pelukan Jayengrana.
Diakhir pementasan tari Menak Kelaswara Palakrama kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh penari dan pengunjung. Dalam sesi tanya jawab tersebut Inul Angela Retno Nooryastuti memberikan sedikit pesan kepada generasi muda agar jangan berhenti untuk cinta, belajar, menggeluti kebudayaan kita sendiri dan bangga menjadi bagian dari budaya kita.
Pentas Jogedan Selasa Legen ini terbuka bagi umum dan gratis. Ndalem Pujokusuman sendiri berada di Keparakan, Mergangsan, Yogyakarta. Adapun informasi tentang acara jogedan selasa legen dan Sanggar YPBSM bisa menghubungi Rini di 082242030376 dan Andrie di 088806000908.

Tari Golek Menak di Ndalem Pujokusuman

Tari Golek Menak oleh Iman Suwongso dan Kadarwati.

Jogjatoday – Yogyakarta merupakan daerah pusat budaya jawa dengan keberadaan kraton yang masih aktif hingga saat ini, Hal ini yang menyebabkan yogyakarta mempunyai kekayaan seni, tradisi dan kebudayaan. Seni Tari merupakan salah tahu kekayaan yang dipunyai kota yogyakarta ini. Seiring dengan perjalanan sejarah Keraton Yogyakarta, banyak lahir tarian tradisional Jawa, dan para maestro tari. Sasminta Mardawa atau sering disebut Romo Sas adalah salah satu maestro tari tradisional Yogyakarta. Dalam perjalanan hidupnya beliau menciptakan banyak karya tari seperti Tarian Renggomatoyo, Golek Surungdayung, Golek Kenyotinembe, Klana Alus dan masih banyak lagi. Pada tahun 1992 beliau mendirikan Yayasan Pamulangan Beksa mardawa Budaya, tujuan utama Yayasan ini adalah mengelola kegiatan pendidikan tari Mardawa Budaya dan Pamulangan Beksa Ngayogyakarta. Romo Sas, yang memperoleh gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dari Keraton Yogyakarta, sebagai ketua Yayasan memegang peranan yang sangat penting dalam melestarikan tradisi tari klasik gaya Yogyakarta.
Setelah Romo Sas wafat pada tahun 1996 yayasan tersebut dilanjutkan dikelola oleh istri beliau yang bernama Siti Sutiyah. Dan kemudian pada tahun 2013 dibuatlah acara rutin Jogedan Selasa Legen. Jogedan selasa Legen adalah suatu agenda yang didedikasikan untuk hari Kelahiran sang Maestro Tari Klasik Gaya Yogyakarta serta Guru Besar YPBM dalam belajar menari Klasik. Agenda ini merupakan agenda terbaru di Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa,yang hadir tiap satu bulan sekali yaitu hari Selasa Legi.
Dalam kesempatan ini, Selasa 27 Maret 2018, Jogedan Selasa Legen menampilkan Latihan Tari rutin Renggomatoyo secara rame rame dan bebas diikutin oleh siapa aja. Setelah itu diteruskan dengan pementarasan Tari Golek Menak oleh Iman Suwongso dan Kadarwati. Tari Golek Menak adalah tarian klasik yang terinspirasi oleh gerakan dari Wayang Golek Menak. Tarian ini merupakan salah satu tarian klasik tradisional dari Yogyakarta yang memiliki nilai seni tinggi. Tari Golek Menak ini di ciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX karena kecintaan dan kekagumannya terhadap Wayang Golek Menak.
Menurut sejarahnya, tarian ini mulai diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1941. Untuk melaksanakan idenya itu, Sri Sultan mengajak para pakar tari dan beberapa lembaga tari di Yogyakarta. Dalam proses penciptaan tarian tersebut memakan waktu yang cukup lama, karena untuk menirukan gerakan setiap tokoh pada Wayang Golek Menak ini memiliki tingkat kesulitan tinggi. Tarian ini mulai mendapatkan bentuk sempurnanya pada tahun 1989. Sebelum Sri Sultan sempat menyaksikan hasil penyempurnaan tarian ini, beliau telah wafat terlebih dahulu.
Biarpun terbilang tidak banyak tapi animo masyarakat untuk menikmati tarian-tarian tradisional masih terlihat, bahkan orang luar negeripun juga mulai ikut menonton. Mereka lebih antusias untuk mendalami kebudayaan yogyakarta.

Revitalisasi Tari Klasik Gaya Yogyakarta #2 HUT 54 YPBSM

_DSC0303-2

Jogjatoday – Suara Gamelan mengalun indah, mengiringi para penari yang sedang menari di Taman Budaya Yogyakarta, Selasa malam (30/8) kemaren. Murid-murid Yayasan Pamulang Beksa Sasminta Mardawa atau di singkat YPBSM mengadakan pentas tari untuk memperingati almarhum KRT Sasmita Dipura atau yang sering di sebut Romo Sas yang tidak lain adalah seorang maestro tari klasik gaya yogyakarta yang mendirikan YPBSM tersebut.
Siti Sutiyah Sasminta Dipura, istri dari almarhum Romo Sas mengatakan bahwa pementasan kali ini merupakan salah satu wujud tanggung jawab YPBSM dalam memelihara, melestarikan dan mengembangkan tari klasik gaya yogyakarta. Upaya menampilkan karya murid-murid Romo Sas merupakan salah satu usaha YPBSM menyambungkan benang sutera yang sudah di rajut oleh Romo Sas dalam berkesenian dan di teruskan kepada murid-murid YPBSM sebagai generasi penerus dengan tanpa kehilangan akarnya.
Dalam acara Ulang Tahun yang ke 54 YPBSM tahun ini juga sekaligus memperingati 20 tahun wafatnya Romo Sas, YPBSM mengadakan pementasan tari dan Fragmen yang di beri judul “Revitalisasi Tari Klasik Gaya Yogyakarta #2″. Acara ini di awali dengan tari Golek Ayun-ayun yang di tarikan oleh murid-murid YPBSM yaitu Erina, Savina, Tata, Risna Dan Elga. Tarian ini menggambarkan seorang gadis remaja yang tengan beranjak dewasa dan senang mempercantik dirinya sendiri. Setelah beberapa menit kemudian di sambung dengan Tari Yoga Nuraga yang menceritakan wujud kesiapan seorang anak laki-laki dalam membekali diri. Belajar tak lupa bermain dan bermain tak lupa belajar, karena kubangan wawasan samudra ilmu adalah bekal yang kekal. Tarian ini di tarikan oleh Awang, syafiq, radhit, abror, dan vano.
Tarian berikutnya adalah Topeng Ngelana, Bedaya Awalokiteswara dan di tutup dengan Fragmen Menak”Kelaswara Palakrama”.
Dalam acara ini YPBSM juga memberikan Sasminta Mardawa Award 2016 kepada Bapak Sal Murgiyanto seorang seniman tari yang handal, penulis, pemerhati seni dan juga seorang guru besar dibidang seni yang mengajar di Universitas dalam negeri dan luar negeri.

[naskah: Einstenia /Jogjatoday]

photo by Yudhi kusvianto for jogjatoday.com

Tari Golek Lambangsari; Hadiah Sultan HB VII Untuk Mangkunegara VI

IMG_0955

Tari Golek Lambangsari Wetah karya K.R.T. Purbaningrat dibawakan dengan sangat lembut oleh DR TH.Suharti dalam gelaran Jogedan Selasa Legen di Sanggar Tari Pujokusuman Yogyakarta, Selasa (25/8). Maestro tari klasik Jawa yang bergelar Nyi KRT Pujaningsih tampak begitu menjiwai tarian dengan ragam klana alus ini. Ihwal Tari Golek Lambangsari Wetah merupakan hadiah yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada saat penobatan Sri Mangkunegara VI tahun 1916.ย [yudhi kusvianto/Jogjatoday]

photo by Yudhi Kusvianto for jogjatoday.com