Nuansa Estetika : 200 Karya Seni Rupa Penuhi Taman Budaya Yogyakarta

Nuansa Estetika 2019
Joko Pekik memberikan tanda tangan sebagai di bukanya pameran seni rupa Nuansa Estetika di TBY

Jogjatoday – Menandai satu dasawarsa, Edu Art Forum kembali menyelenggarakan pameran seni rupa tingkat nasional. Bertajuk Pameran Seni Rupa Tingkat Nasional X – 1 Dasawarsa Edu Art Forum “Nuansa Estetika”, pameran digelar di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 25 – 30 Agustus 2019.

Lebih dari 170 peserta dari berbagai daerah meramaikan pameran ini. Selain para pengajar seni rupa dari berbagai institusi pendidikan, para peserta juga banyak yang berprofesi sebagai perupa profesional, pensiunan, arsitek, dan lain-lain.

Djoko Pekik dalam pidato sambutan pembukaan pameran mengatakan bahwa setiap seniman yang berkarya seni pasti punya maksud sesuatu. Mau bicara apa melalui karyanya? Mungkin marah, mungkin senang, dan lain-lain. Kalau sudah keranjingan berkarya berarti sudah berniat berbicara melalui bahasa seni rupa.

“Anda yang sudah melalui pendidikan di sekolah seni harus merasa sudah digembleng untuk siap berbicara dengan bahasa seni. Kalau berbicara tidak dengan bahasa artistik maka tidak ada gunanya,” tutur Djoko Pekik, Minggu (25/8/2019) malam.

“Sebenarnya Jogja itu sudah lelah, karena ada ratusan pameran di berbagai pelosok di kampung, sawah. Seperti ArtJog itu menurut saya sudah di luar seni. Mereka sudah tidak bicara dengan bahasa seni lagi. Ini kritik saya buat ArtJog,” tambah maestro seni lukis tersebut.

Lebih dari 200 karya, baik dua dimensi maupun tiga dimensi, dipajang di ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta. Tak ada tema khusus dari karya yang dipamerkan, sehingga para peserta bebas berkreasi dengan tema yang mereka kehendaki.

Lukisan-lukisan bertema mooi indie ditampilkan oleh sejumlah perupa. Diantaranya perupa kelahiran Demak, Ahmad Ahid dengan karya “Pagi yang Cerah” serta Tedjo Yuwono, perupa Yogyakarta, dengan karya berjudul “Gunung Merapi” dan “Air Terjun”. Selain itu, lukisan potret tokoh maupun sosok wajah perempuan juga banyak mewarnai pameran ini.

Salah satu peserta yang baru pertama kali ikut pameran Edu Art Forum, Hendy Prayudi, menyajikan karya lukis berjudul “Menggelar Resah” yang menggambarkan suasana pasar tradisional.
“Bisa dibilang pasar tradisional sedang resah akan nasibnya. Pasar tradisional kini semakin terdesak oleh mall dan toko modern. Padahal pasar tradisional merupakan pusat ekonomi kerakyatan yang harus selalu didorong keberlangsungannya,” ungkap perupa dari Jawa Timur tersebut.

Susilo Dwi P., seniman asal Yogyakarta memamerkan karya berjudul “Javanese Kris” untuk menyatakan bahwa keris sebagai obyek yang sangat dekat dengan kehidupannya. Keris juga memiliki arti penting baginya karena bagian dari budaya adiluhung. Dalam karyanya tersebut Susilo menggunakan warna-warna yang lembut, tidak mencolok, karena dia mengaplikasikan warna-warna yang sering digunakan dalam batik warna alam.

“Selain menggemari keris dan lukis, saya memang menggeluti kerajinan batik warna alam. Jadi inspirasi dalam berkarya bisa saling melengkapi antara melukis dan membatik. Kadang lukisan saya terinspirasi batik, dan batik terinspirasi lukis,” ujarnya.

Sementara itu perupa asal Tasikmalaya, Yusa Widiana, menyajikan dua karya lukis berjudul “Abu-abu 1” dan “Abu-abu 2”. Ia mengaku mendapat inspirasi setelah melihat kertas yang tidak digunakan. Karya lukis mix-media miliknya memang terbuat dari bubur kertas, cat acrylic, dan kanvas.

Karya yang cukup mencolok, baik dari ukurannya yang besar aaupun dari warna-warna menyolok yang ditampilkan, disajikan oleh Taat Joeda, perupa senior asal Bandung. Menurut Taat Joeda, konsep karyanya yang berjudul “Semak Itu Indah” berbicara tentang keindahan dari rumput-rumput liar.

“Kalau bunga indah itu sudah biasa. Tapi kalau rumput semak-semak kan jarang dilihat keindahannya. Padahal kalau diperhatikan tidak kalah indahnya. Saya menggunakan warna-warna yang seperti ini karena awalnya saya menggeluti desain interior. Jadi lukisan ini bisa masuk ke semua ruangan,” terangnya.

Dilihat secara umum, karya-karya yang ditampilkan memang sangat beragam, baik dari segi konsep, ukuran, media yang digunakan, kapasitas teknik, hingga kualitas karya keseluruhan. Namun, sesuai dengan tema pameran “Nuansa Estetika”, nuansa keindahan terpancar dari masing-masing karya yang dipamerkan. Ya, keindahan adalah sesuatu yang relatif.

Pameran Seni Rupa ke 9 bertajuk ‘Expose Edu Art Action’

Expose Edu Art Action
Pameran Seni Rupa Tingkat Nasional IX

Jogjatoday – Sekitar 180 praktisi seni rupa dari berbagai kota gelar Pameran Seni Rupa Tingkat Nasional ke 9 di Taman Budaya Yogyakarta, tanggal 25 hingga 30 Juli 2018. Pameran Seni Rupa Tingkat Nasional IX bertajuk ‘Expose Edu Art Action’ ini diselenggarakan oleh Edu Art Forum yang memang rutin tiap tahun menghelat acara tersebut. Pembukaan pameran dilakukan oleh Ibu Yani Saptohoedojo. Pembukaan juga dimeriahkan berbagai acara pendukung seperti kesenian Musik, Wiwiek Fashion Show serta spontanitas perform art peserta pameran.
Lebih dari 250 karya dua dimensi dan tiga dimensi disajikan dengan kemajemukan tema, inspirasi, dan bahannya. Sejumlah karya nampak mengusung tema potret ekonomi masyarakat, kehidupan dan kritik sosial, politik, visualisasi cerita pewayangan, mooi indie, hingga sosok tokoh-tokoh nasional. Bahannya pun beragam, meskipun mayoritas merupakan lukisan di atas kanvas.
Corak ragam karya yang tercakup dalam pameran ini seperti hamparan luas mozaik warna-warni, energi kreatif yang berpendar dari berbagai wilayah. Sangat sesuai dengan latar profesi dan sosial yang beragam para pesertanya. Meskipun awalnya pameran ini diperuntukkan bagi guru-guru seni dari berbagai daerah, tapi kini juga diikuti oleh pegiat seni dengan berbagai profesi seperti dokter umum, dosen, dokter hewan, wirausahawan, perupa profesional hingga camat. Mereka ada yang berasal dari Aceh, Riau, Kalimantan, Bali, Lampung, Banten, Jakarta, Bandung, Cirebon, dan berbagai kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, serta tentu saja Yogyakarta.
Sejumlah karya lukis yang dipamerkan, antara lain berjudul “Piknik” karya Abdul Munir, “Gambang Safaat” karya Ahmad Jaelani Rusdi, “Penggali Pancasila” karya Antok Adi Krisdianto, “Sedulure Wong Akeh” karya Feri Widyo, “Semangat Bung Karno dan Jokowi dalam kebhinekaan” karya Indah Sari dan masih banyak lagi pelukis-pelukis yg lain.
Menurut Ketua Panitia Pameran sekaligus Direktur EduArt Forum, Drs. Mahyar Suryaman, antusiasme peserta selalu meningkat tiap tahunnya. Jumlah karya dan kualitasnya pun juga mengalami peningkatan. Hal tersebut juga menjadikan pameran mempunyai arti penting sebagai rekam jejak capaian artistik para pesertanya.
Selain pameran seni rupa, beberapa kegiatan juga diselenggarakan sebagai acara pendukung. Panitia akan menggelar acara Melukis Model Jogja pada Minggu, 27 Juli 2018 mulai pukul 09.00 WIB di Lobby Taman Budaya Yogyakarta. Selain itu pada hari Senin, 30 Juli 2018 mulai pukul 14.00 WIB juga akan digelar Dialog Seni Rupa di Ruang Pameran Taman Budaya Yogyakarta.