Pementasan Kolaborasi Musik jazz dengan Gamelan di Tembi Rumah Rumah Budaya

Jogjatoday – Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis kembali mengudang seniman musik luar negeri yang rencananya akan pentas di 3 kota Indonesia, Lampung, Yogyakarta dan Jakarta. Kali ini mereka mendatangkan pemenang Grammy Award Belanda, Ineke Vandoorn seorang vokalis yang juga akan memainkan piano dan Marc Van Vugt seorang Gitaris juga komposer handal. Duo Belanda ini telah bermain bersama dalam waktu yang cukup lama. Bersama-sama mereka menciptakan musik jazz yang kreatif, indah dan mudah dicerna bagi pendengarnya. Untuk Tour Duo ini kebanyakan lagu-lagunya menceritakan perjalanan mereka mengelilingi dunia.

Berbeda dengan penampilan Duo Belanda ini di beberapa negara seperti Kanada, Jepang, Perancis, hungaria, dan lainnya , Di pementasan mereka di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, Selasa (10/12/2019) besok akan berkolaborasi dengan musisi gamelan Purwanto dan Sukoco. Bersama-sama mereka menampilkan musik jazz dengan nuansa yang sedikit berbeda dan bisa mengantar Anda ke hal-hal yang tidak biasa.

Musik mereka melewati batas-batas emosi dan melodi sebuah lagu, menciptakan suasana yang intim dan penuh gairah, diracik dengan nuansa choro Brazil dan dongeng Skandinavia. Mereka mengeksplorasi batas-batas improvisasi dan lirik-lirik lagu, menciptakan dunia mereka sendiri, tidak pernah kehilangan rasa dari lirik dan harmoni mereka; terbang bebas seperti burung yang memainkan lagu-lagu mereka.

Seniman kelas dunia seperti Marc Van Vugt dan Ineke Vandoorn disejajarkan dengan Purwanto dan Sukoco yang juga merupakan seniman terkenal di indonesia membuat kolaborasi tersebut menjadi mudah untuk di lakukan. Mereka masing-masing dengan cepat berimprovisasi untuk mewarnai lagu yang dibawakan sehingga memberi nuansa yang baru.

Jadi untuk penikmat jazz atau siapapun juga yang suka dengan musik, jangan sampai terlewatkan penampilan mereka nanti tanggal 10 Desember 2019 jam 19.00 di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, tanpa di pungut biaya alias gratis.

TULUS Menyapa Hangat Penggemarnya di Jogja Expo Center

Jogjatoday – Musisi Muhammad Tulus Rusydi atau yang biasa dipanggil Tulus sukses menyapa penggemarnya di Jogja Expo Center ( JEC ) Kamis, 26/7 malam itu.

Konsernya kali ini bertajuk Sewindu TULUS. Judul Konser ini diambil dari judul lagu pertama yang di publikasikan di awal karirnya. Konser ini lebih menceritakan perjalan karirnya selama 8 tahun ini. ” Saya berharap tur ini menjadi tempat bagi saya dan pendengar bisa saling berbalas apresiasi, merayakan 8 tahun perjalanan musik bersama-sama” Ujar Tulus.

Yogyakarta merupakan kota kedua yang di sambangi TULUS dalam Tur & Festival Sewindu. Dengan melibatkan pengiring sebanyak 21 orang yang terdiri dari pemain band, penyanyi latar , pemain alat musik tiup dan gesek, Tulus menyuguhkan sejumlah lagu hits-nya dengan durasi pertunjukan kurang lebih selama 1 jam 45 menit.

Tulus membuka konser malam itu dengan menyanyikan lagu berjudul “Baru”. Tanpa diminta, ketika musik dimulai penonton langsung bernyanyi. Suasana JEC malam itu jadi hangat dan ramai. Setiap lagu yang di nyanyikan TULUS berubah menjadi paduan suara massal dari penggemar yang hampir menghafal semua lirik lagu-lagu TULUS.

Di sela-sela konser yang diselenggarakan Rajawali Indonesia & Tulus Company bekerjasama dengan Optimus One itu, Tulus sempat bercerita kepada ribuan penonton yang memadati Jogja Expo Center Dia mengaku masih gugup di hadapan penonton Yogyakarta. Terbukti dia sempat lupa beberapa lirik saat menyanyikan lagunya.

“Saya tahu tidak semua mempunyai suara merdu, tapi semua orang bisa bernyanyi keras. Jadi kalau nonton Tulus, harus serak,” lanjutnya.

Setelah berkata demikian kembali Tulus menyanyikan deretan lagu-lagu hits nya dan tentu saja di barengi oleh suara semua penonton yang memadati Jogja Expo Center tersebut.

Sesampai di penghujung lagu terakhir yang dinyanyikan Tulus banyak teriakan kekecewaan dari penggemarnya. Mereka kecewa karena konser Sewindu Tulus segera berakhir. Mereka belum puas dan masih ingin tetap bernyanyi bersama dengan penyanyi pujaannya.

“Kami sangat bersemangat mengikuti berbagai kegiatan dan bertemu teman TULUS pada rangkaian Tur & Festival Sewindu TULUS yang kedua di kota yogyakarta ini. Sejumlah kejutan di atas panggung akan kami hadirkan pada Tur Sewindu untuk teman TULUS di Yogyakarta” kata Anas Syahrul Alimi, CEO Rajawali Indonesia.

Pementasan “Jembatan Tak Berujung – Mahabharata 1.5” karya Hiroshi Koike di TBY

Mahabharata 1.5 - Jembatan tak berujung
Permainan dadu antara Pandawa dan Kurawa atas ide jahat dari Sengkuni

Jogjatoday – Narasi epik Mahabharata telah ditulis berabad-abad yang lalu. Namun kisah legendaris ini terus menerus ditampilkan dalam setiap bentuk seni dengan versi yang berbeda di masing-masing tempat.

Hal ini membuktikan bahwa epik Mahabharata masih dipuja sampai saat ini, bukan hanya karena keagungan puitisnya, namun karena kisah-kisah dalam Mahabharata mempunyai relevansi yang kuat di kehidupan sehari-hari sampai kini.

Secara singkat, Mahabharata menceritakan kisah konflik para Pandawa lima dengan saudara sepupu mereka sang seratus Korawa, mengenai sengketa hak pemerintahan tanah negara Astina. Puncaknya adalah perang Bharatayuddha di medan Kurusetra dan pertempuran berlangsung selama delapan belas hari.

Hiroshi Koike di kesempatan temu media di Padepokan Bagong mengatakan, “Semua orang harus mengetahui dan mempelajari apa itu Mahabharata sehingga bisa menyikapi hal-hal yang terjadi disekitar kita dengan lebih bijaksana,. Dan hal inilah yang melandasi Hiroshi Koike untuk menciptakan karya tentang Mahabharata.

Dimulai Mahabharata Chapter 1 tahun 2013 dipentaskan di Kamboja dan Vietnam, kemudian Mahabharata Chapter 2 tahun 2014 di India, Malaysia, dan Indonesia. Pada Tahun 2015 Mahabharata Chapter 2.5 yang dipentaskan di Thailand, China, Philipina, dan Jepang. Di tahun 2017 kembali di pentaskan Mahabharata Chapter 4 di Thailand dan Jepang.

Di tahun 2019 kembali Hiroshi Koike menciptakan karya yang bertajuk “Jembatan Tak Berujung – Mahabharata 1.5”. Beliau menjelaskan karyanya kali ini adalah ringkasan dari chapter 1 dan chapter 2 sehingga disebut dengan Mahabharata 1.5. Dalam chapter ini lebih menceritakan bagaimana manusia diciptakan sampai menjelang perang kurusetra.

Diawali dengan Pernikahan Prabu Sentanu dengan Dewi Gangga yang dikutuk agar turun ke dunia, tetapi Dewi Gangga meninggalkannya karena Sang Prabu melanggar janji pernikahan. Hubungan Sang Prabu dengan Dewi Gangga sempat membuahkan anak yang diberi nama Dewabrata atau Bisma. Setelah ditinggal Dewi Gangga, akhirnya Prabu Santanu menjadi duda beberapa lama yang kemudian menikah lagi dengan Dewi Satyawati, puteri nelayan.

Dari hubungannya, Sang Prabu berputera Sang Citrānggada dan Wicitrawirya. Citrānggada wafat di usia muda dalam suatu pertempuran, kemudian ia digantikan oleh adiknya yaitu Wicitrawirya. Wicitrawirya juga wafat di usia muda dan belum sempat memiliki keturunan. Atas bantuan Resi Byasa, kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, melahirkan masing-masing seorang putera, nama mereka Pandu (dari Ambalika) dan Dretarastra (dari Ambika).

Inilah sepenggal cerita dari pentas Mahabharata 1.5 dan kemudian cerita ditutup dengan adegan perang di Kurukshetra yang merupakan bagian penting dari wiracarita Mahabharata, dilatarbelakangi perebutan kekuasaan antara lima putra Pandu (Pandawa) dengan seratus putra Dretarastra (Korawa).

Karya Mahabharata 1.5 di pentaskan selama 2 hari di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 22 dan 23 Agustus 2019 yang lalu. Terhitung 9 bahasa yang digunakan dalam pementasan tersebut baik bahasa nasional maupun bahasa daerah. Penari-penari dalam pementasan ini terdiri dari berbagai negara seperti : Thailand, India, Jepang, Indonesia, dan Malaysia.

Penonton sangat antusias menikmati karya tersebut terbukti dengan tiket yang terjual habis sebelum acara dan kursi yang penuh di baris penonton. Bahkan mereka tidak beranjak dari kursi sebelum acara selesai. Karya tersebut tergolong berdurasi lama berkisar 3 jam dengan jeda istirahat 15 menit di tengah-tengah acara. Namun dengan pengemasan yang baik ditambah dengan penambahan elemen-elemen seni tradisi dari berbagai negara sehingga membuat pertunjukan tersebut tidak menjemukan.(YK)

Celeng Siji Celeng Kabeh : Sebaris Bait Lagu Sri Krishna di TBY

Celeng Dhegleng
Musisi Sri Krishna sedang melantunkan lagu di Konser Kidung Nusantara di Taman Budaya Yogyakarta ( TBY ), Kamis, 07 Maret 2019

Jogjatoday – Musisi Sri Krishna yang lebih kerap disapa “Ncik” adalah seorang Pria kelahiran Wonogiri, hijrah ke Jogja, bergaul di kalangan manapun, mengamen sejak dini, suka hati berpindah-pindah sekolah/kuliah, membangun panggung dari café ke café, menawarkan kemana saja cita rasa baru dalam bermusik, hadir dalam single dan grup, bermain mandiri (independent) – di bawah manajemen – hingga kembali mandiri, koprol sampai salto njungkel bin njempalik memperjuangkan kesempatan untuk terus berkarya, dan kini merasa di tahap berbahagia dan selo, bersuka-cita mengamini kegagalan sebagai sebuah prestasi. Kemudian, titik penting mengenai sepak terjang si-Ncik yaitu buah kebersamaannya di kawasan rawan bernama Folk Mataraman Institute. Disinilah si Ncik menjabat hebat sebagai seorang Rektor.

Lagu-lagu Sri Krishna mengalir, dalam bermusik ia tak merencakan untuk mencapai target-target tertentu (misal berada di tangga nada lagu, panggung tertentu, atau jumlah penjualan album), ia ingin karya-nya sebagai suara hati, menurut ncik “ya memang begitulah keadaan-nya”. Contoh nyata-nya ia menciptakan sebuah lagu yang diunggah di akun soundcloud-nya dan membebaskan bagi siapapun yang ingin menggarap lagu itu, untuk digunakan dalam bentuk apapun juga. Sri Krishna sering hadir di berbagai panggung pameran, musiknya menghadirkan sajian eksperimental dalam bentuk kolaborasi yang sifatnya luas (tidak sekedar menyanyi bersama), sebagai contoh ada lagu dari lukisan Djoko Pekik berjudul Celeng Degleng, Kidung Nusantara bersama pelukis Nasirun, dan masih banyak lagi.

Pada konser kali ini di Taman Budaya Yogyakarta ( TBY ), Kamis, 07 Maret 2019, Ncik mengangkat tema Celeng Dhegleng. Tema Celeng Dhegleng sendiri bukan tanpa alasan kuat dibagikan ke pecinta musik. Saat ini bahkan setelah 20 tahun pasca reformasi, menurut dia manusia yang menyerupai celeng dengan rakusnya masih berkeliaran meski diibaratkannya induk sudah mati. “Banyak yang sekarang seperti celeng di negeri kita, kelihatannya lurus tapi nabrak-nabrak. Sekarang masih ada orang-orang seperti itu. Album ini ingin berusaha menendang siapapun yang mendengarkan,” kata Ncik. Karya Sri Krishna sendiri sepertinya menarik disebut musikalisasi Sastra Celeng yang mana merupakan penggabungan makna lukisan, tulisan dan musik. Pesan mendalam agaknya ingin disampaikan Krishna pada pendengar musiknya.

Lantunan lagu demi lagu sangat memukau penonton malam itu. Bahkan mereka beberapa ikut menyanyikan dan sangat menghayati isi lagunya. Sederetan lagu Menolak Lupa (Untuk Munir), Guru Bangsa (Hormat untuk Gus Dur), Sang Pelayan (untuk YB Mangunwijawa) juga dinyanyikan dengan di iringi dengan slide-slide di belakang panggung yang menambah kekhususan lagu tersebut.

Dalam deretan kursi undangan di depan banyak sekali tamu-tamu dari kalangan seniman-seniman, Romo Sindu, Jadug, Butet, Endah laras, Sruti Respati dan Gusti Prabukusuma juga tidak ketinggalan untuk menikmati sajian lantunan lagu dari Ncik sampe dengan selesai. Bahkan di pertengahan konser tersebut ternyata datang bapak Ganjar Pranowo Gubernur Jawa tengah yang memberikan kejutan kepada Ncik dengan memasuki TBY melalui belakang panggung. Beliau memberikan beberapa patah kata yang menceritakan pertemanannya dengan Sri Krishna. Disela-sela cerita tersebut beliau mengatakan kalau Gus Mus pernah mengatakan ketika Panglima menjadi politik situasi indonesia menjadi ramai, Setelah itu Ekonomi menjadi politik situasi Indonesia tetep ramai, kemudian reformasi kembali panglima menjadi politik dan situasi indonesia tetap ramai. Gus Mus berandai jika Kebudayaan menjadi politik pasti kebhinekaan akan tetap ada, keragaman budaya tidak akan punah dan masih banyak lagi.

Lantunan lagu kembali melanjutkan konser Ncik. Semua lagu yang dibawakan dan diciptakan oleh Sri Krishna menuturkan hal-hal yang ada dikeseharian hidupnya. Keadaan sosial dan politik yang semakin aneh di negeri ini banyak memberikan inspirasi musik dan lagunya. Seperti lagu berjudul “Ayo Lawan” yang menceritakan kondisi negeri ini yang semakin rapuh karena digerogoti para koruptor, dan tidak ada kata lain selain mengajak siapapun untuk melawan segala bentuk penggerogotan yang hendak menghancurkan bangsa ini. Lantunan lagu dengan lirik-lirik yang mengelitik dan iringan Orkerstra dan Paduan suara sangat sukses membawa penonton untuk menyelami semua lagu-lagu tersebut sampai tidak sadar kalau konser tersebut berakhir.

Konser perdana Luise Najib bertajuk “Prologue”

Proloque
Luise Najib sedang menyanyikan lagu berjudul “Blue” diawal konsernya

Jogjatoday – Malam itu ruang pentas IFI-LIP Yogyakarta di Jalan Sagan 3 Yogyakarta begitu dingin dan gelap, Sabtu, 2 Februari 2019. Namun tidak beberapa lama kemudian tamu-tamu undangan mulai berdatangan memenuhi ruangan tersebut. Di kondisi yang masih gelap masuklah pemain keyboard yang memutar musik untuk mengisi kekosongan itu. Beberapa saat kemudian disusul dua orang perempuan yang ternyata salah satunya adalah Luise Najib sendiri dan seorang drumer perempuan.
Diawali dengan menceritakan kisah pertemuan dengan Rizqi Khaitsul sang keyboard dengan panjang lebar kemudian mengenalkan Kezia Grace sebagai pemain drum untuk konser malam itu yang bertajuk Prologue. Prologue ini merupakan Konser pertama kali Luise Najib (LU) yang digelar dan dikemas intim dalam balutan musik baru dan unik.

Kali ini LU menghadirkan 10 lagu yang nantinya akan diluncurkan dalam album perdana LU yang dia produseri dengan bantuan Vicky Unggul sebagai Co-Produser. LU telah memfokuskan diri untuk bereksperimen dengan karakter vokalnya yang lembut, sensual tetapi juga sangat kuat. Dari situlah kemudian LU berusaha menciptakan musik populer dengan sound menggunakan instrumen elektronik seperti drum pads, keyboard, dan sequencer.

Disaat vokal Luise Najib mulai bersenandung syair lagu yang berjudul “Biru” mendadak tata cahaya berubah menjadi biru menyesuaikan judul lagu tersebut. Keintiman mulai dirasakan, diikuti dengan permainan keyboard yang unik menambah daya tarik tersendiri.

Disela lagu-lagu yang dibawakan dia selalu bercerita tentang hidupnya , tentang kesehariannya, tentang teman-temannya. Bahkan dia berbahasa inggris dalam memberikan ceritanya karena sangat menghargai teman-temannya dari luar negeri yang saat itu datang untuk melihat konser dia.

“Aku pernah berjuang menghadapi depresi, serangan panik dan kekosongan yang tidak dapat aku jawab, “ucap Luise disela-sela nyanyiannya. “Pada suatu malam aku terbangun, rasanya seperti berusaha mengingat mimpi, semakin berusaha mengingat semakin kabur ceritanya, hanya melodi-melodi saja yang terngiang samar-samar,” tambahnya. Dan seketika itu juga dia mulai merekam melodi-melodi tersebut. “Winter’s Fault” menjadi judul lagu dari rekaman yang dibuat saat itu. Lagu ini tentang harapan. Tentang seorang yang muncul dihidupnya dan mengubah segala yang ada dengan kepolosannya yaitu kelahiran anak lelakinya. Berbeda dari lagu sebelumnya, Winter’s Fault lebih bernuansa sendu dan tenang. Alunan keyboard yang dimainkan oleh Rizqi Khaitsul menyelimuti warna vokal Luise Najib yang membawa perasaan kita ke dalam ruang yang gelap namun penuh kehangatan. Lagu-lagu yang lain seperti 5 AM, Stranded, Let Me In, The Chills, Love Affair, dan Tattoo Love sukses dibawakannya dengan lembut dan sensual ditambah dengan iringan musik yang indah dan tata lampu yang sangat sesuai dengan suasana lagu.

“People are dancing my mind shuts off, Your bodies seeking, mine fleets above, It’s okay, you don’t have to call up on me, Learned my way, I need not to see” Itu adalah sepenggal syair dari “Audience” lagu terakhir yang menutup konser malam itu. Tepuk riuh penonton memberikan applause kepada penampilan Luise Najib malam itu. 10 lagu sudah di nyanyikan semua dan tak terasa sudah dipenghujung acara.

NGAYOGJAZZ 2017 tidak gratis lagi

Press Conference Ngayogjazz 2017 di Innside Hotel Yogyakarta

Jogjatoday – Ngayojazz kembali di gelar dipenghujung tahun ini. Kledokan, Selomartanim, Kalasan, Sleman yang terpilih menjadi tempat di adakannya perhelatan Ngayogjaz 2017 yang di adakan pada hari Sabtu, 18 November 2017. Acara jazz tahunan ini sudah yang kesebelas, “Ngayogjazz selalu digelar di desa adalah merupakan cara agar siapapun penikmat dan pelaku jazz dapat belajar dari kehidupan di desa-desa tersebut, ” ujar penggagas Ngayogjazz sekaligus budayawan Djaduk Ferianto di acara konfernsi pers Ngayogjazz di Hotel Innside Jogja (16/11/2017) kemarin
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya Ngayogjazz kali ini tidak gratis. Penyelenggara Ngayogjazz bekerjasama dengan Komunitas Jendela membuat gerakan sosial dengan mengharapkan pengunjung Ngayogjazz membawa Buku tulis atau Buku Gambar sebagai pengganti tiket masuk. Jadi bagi siapapun yang menonton acara ini bisa membawa buku tulis berjenis apa saja dan berjumlah berapa aja sebagai ganti tiket masuk yang nanti setelah selesai acara Ngayogjazz akan dibagi-bagi kan kepada anak-anak yang membutuhkan secara cuma-cuma.
Ngayogjazz 2017 mengangkat tema “Wani Ngejazz Luhur Wekasané” juga bisa diartikan siapa yang berani mengapresiasi musik jazz akan mendapatkan kemuliaan. Djaduk Ferianto juga mengatakan “Mengapresiasi di sini bukan hanya bermain musik jazz. Tapi juga bisa mendengarkan, menonton, dan hadir di Ngayogjazz di Kledokan,”
Everyday dan Endah N Rhesa akan menjadi band pembuka yang kemudian dilanjutkan oleh musisi-muisi seperti Jeffrey Tahalele & Friends, Bintang Indrianto, Bianglala Voices, Sri Hanuraga Trio feat Dira Sugandi, Bonita, Gugun Blues Shelter, Jatiraga, Alangalang, Rully Shabara, Huaton Dixie, hingga komunitas-komunitas jazz dari seluruh indonesia bahkan Remi Panossian Trio dari Perancis juga ikut meramaikan acara Ngayogjazz 2017 ini.
Penyelenggara Ngayogjazz tahun ini juga menyediakan transport untuk yang ingin menikmati acara jazz tersebut. Shuttle Jazz Ngayogjazz 2017 akan diberangkatkan dari 2 titik yaitu Cupable Cafe Yakkum Pakem (untuk mengcover daerah Utara dan Tengah) dan Jogja National Museum ( untuk mengcover daerah barat dan Selatan). Shuttle Jazz tersebut akan diberangkatkan jam 15.00 dan berlanjut setiap 1 jam sekali hingga pukul 22.00. Dan layanan pemulangan akan di lakukan dari Tugu Batu Kledokan ke Shuttle pemberangkatan tadi mulai pukul 23.30.
Setiap tahunnya Ngayogjazz selalu memilih tempat penyelenggaraan di pedesaan sekaligus melibatkan masyarakatnya. Selain kesenian tradisional setempat, akan selalu ada pasar tiban bernama Pasar Jazz yang mayoritas diikuti oleh penduduk setempat sebagai usaha pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Foto & Teks oleh Yudhi kusvianto