PBTY XIV : Kampung Ketandan Lautan Merah

Pembukaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XIV

ubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X bersama dengan Ketua PBTY 2019 Trikirana Muslidatun menabuh tambur di iringi oleh Walikota Yogyakarta Drs. H. Haryadi Suyuti memainkan simbal .

Jogjatoday – Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) , digelar kembali mulai hari Rabu, 13 Februari 2019 dan masih terpusat di Kampung Ketandan, Gondomanan, Yogyakarta. PBTY XIV kali ini tidak berbeda dari PBTY sebelumnya. Panitia PBTY menyulap tempat parkir umum bekas Kampus UPN ketandan menjadi tempat megah bernuansa Tionghoa yang identik dengan warna merah. Hiasan-hiasan lampion dan berbagai jenis asesories menambah meriah lokasi di sekitar panggung utama tersebut.

Penampilan Barongsay membuka acara pembukaan PBTY XIV. Dua pasang Barongsay warna merah dan kuning memasuki area panggung utama di ikuti oleh MC. Barongsai merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Tionghoa yang banyak menarik perhatian masyarakat untuk ditonton. Secara tradisional Barongsai mempunyai nilai spiritual sebagai kearifan masyarakat Tionghoa yang mempercayai kemalangan dan nasib buruk serta keberuntungan dan nasib baik. Naga dilambangkan sebagai binatang utusan dewa yang dapat mengusir segala macam kejahatan, nasib, dan kemalangan yang akan menimpa manusia. Selama melakukan aksinya sang naga ditemani oleh Na Cha seorang pengawal yang selalu memberi makanan berupa sayuran dan buah-buahan. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat Tionghoa sebagai ucapan syukur kepada para naga bukan lagi memberi sayuran dan buah tetapi dalam bentuk uang yang dibungkus kertas merah dan dikenal sebagai angpao. Begitu juga yang dilakukan oleh pejabat-pejabat yang datang dalam pembukaan tersebut juga memberikan angpao kepada barangsay begitu selesai penampilan mereka.

Diawali dengan laporan oleh ketua umum Panitia PBTY 2019 ibu Trikirana Muslidatun yang kemudian dilanjutkan sambutan oleh Ketua JCACC Drs T. Harry Setion. “Event PBTY ini menjadi event nasional terbesar nomor 4 versi Pesona Indonesia dan akan masuk katagori Wonderful Indonesia, ” tambah Harry disela-sela sambutannya. Pembukaan PBTY 2019 kali di diawali dengan pemukulan tambur secara bersamaan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X bersama dengan Ketua PBTY 2019 Trikirana Muslidatun dan di iringi dengan tabuhan simbal oleh Walikota Yogyakarta Drs. H. Haryadi Suyuti. Tepuk tangan riuh mengikuti penabuhan alat pengiring barangsay tersebut.

Dalam pembukaan Pekan Budaya Tionghoa tersebut juga menampilkan tari-tarian yang lekat dengan budaya Tionghoa seperti Tari Nyai Dasimah oleh “NNOPS by Novianti”. Diselingi dengan pemutaran Video teaser PBTY XIV 2019 kemudian kembali ditampilkan Tari berjudul “Ni Erl Qing” oleh Paguyuban Alumni Sekolah Tionghoa ( PASTI ). Selanjutnya Tari “Hua Mulan” yang menceritakan tentang Hua Mulan yang menyamar menjadi laki-laki untuk maju ke medan perang menggantikan ayahnya yang sudah sudah tua dan berhasil mengalahkan pasukan Mongolia. Mulan sosok yang penyelamat, inspirasi dan harapan untuk negerinya walaupun akhirnya mulan kehilangan keluarga dan jati dirinya. Begitulah sepenggal kisah mulan yang dituangkan kedalam tarian yang di koreograferi oleh Gusti Diah Afifah dan Lidia Permata Sari dan ditarikan oleh grup Hyena Diutara.

Berikutnya penampilan Liong Naga yang berbeda dari biasanya karena ditarikan oleh perempuan semua dari Hoo Hap Hwee Yogyakarta. Kepiawaian menarikan liong naga tersebut membuat seakan liong naga tersebut benar-benar hidup dan berputar-putar di panggung utama PBTY XIV. Dan masih ada beberapa penampilan dari Sanggar Tari Natya Lakshita asuhan Didik Nini Towok berjudul “The Spirit Of The Pig” dan terakhir ditutup dengan penampilan Liong dan Barangsay dari grup Naga Barongsay Panbres.

Setiap hari pada pukul 17.00 hingga pukul 22.00 wib akan ditampilkan beragam kesenian dari beberapa komponen masyarakat, dalam 7(tujuh) panggung. Agenda lain diantaranya Karnaval , Lomba-lomba, Bazar dan Pameran. Demikian disampaikan oleh Fathoni, Humas PBTY XIV, pada kesempatan Jumpa Pers di Balaikota yang lalu.

Salah satu hal yang tidak dapat dilewatkan dari PBTY adalah festival kuliner. Bisa dipastikan bahwa di PBTY tahun ini diikuti ratusan stand kuliner baik lokal maupun internasional. Pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai jenis kuliner dengan harga terjangkau. Setiap harinya, pengunjung PBTY dapat menikmati kuliner sambil menonton berbagai pertunjukan pentas seni dari berbagai daerah di area Kampoeng Ketandan. PBTY juga menyajikan berbagai lomba yang bisa dinikmati dan diikuti oleh pengunjung seperti lomba karaoke Mandarin, lomba melukis kepala wayang potehi, lomba Chinese Paper Cutting, lomba Kaligrafi Tiongkok, dance competition, pemilihan Koko Cici, lomba mendongeng dalam bahasa Mandarin.

Disalah satu sudut jalan di Kampung Ketandan juga terdapat panggung boneka wayang potehi dan workshop tentang pembuatan boneka wayang potehi oleh Perajin dari Guhdo, Jombang di Rumah Budaya Ketandan.

Sepanjang jalan di Kampung Ketandan penuh sesak dengan pengunjung yang akan menikmati kuliner dan menyaksikan penampilan kesenian Tionghoa. Pengunjung sangat antusias untuk mencicipi kuliner khas Tionghoa seperti Shio Pao, Choipan, Cakwe, Wedang tahu, Lontong Cap Go Meh.

Jadi jangan sampai terlewatkan untuk penikmat kuliner dan seni karena PBTY XIV 2019 akan dilaksanakan sampai dengan tanggal 19 Februari 2019.

Photo by Gilang Braja dan Yudhi K

You may also like...