Konser perdana Luise Najib bertajuk “Prologue”

Proloque

Luise Najib sedang menyanyikan lagu berjudul “Blue” diawal konsernya

Jogjatoday – Malam itu ruang pentas IFI-LIP Yogyakarta di Jalan Sagan 3 Yogyakarta begitu dingin dan gelap, Sabtu, 2 Februari 2019. Namun tidak beberapa lama kemudian tamu-tamu undangan mulai berdatangan memenuhi ruangan tersebut. Di kondisi yang masih gelap masuklah pemain keyboard yang memutar musik untuk mengisi kekosongan itu. Beberapa saat kemudian disusul dua orang perempuan yang ternyata salah satunya adalah Luise Najib sendiri dan seorang drumer perempuan.
Diawali dengan menceritakan kisah pertemuan dengan Rizqi Khaitsul sang keyboard dengan panjang lebar kemudian mengenalkan Kezia Grace sebagai pemain drum untuk konser malam itu yang bertajuk Prologue. Prologue ini merupakan Konser pertama kali Luise Najib (LU) yang digelar dan dikemas intim dalam balutan musik baru dan unik.

Kali ini LU menghadirkan 10 lagu yang nantinya akan diluncurkan dalam album perdana LU yang dia produseri dengan bantuan Vicky Unggul sebagai Co-Produser. LU telah memfokuskan diri untuk bereksperimen dengan karakter vokalnya yang lembut, sensual tetapi juga sangat kuat. Dari situlah kemudian LU berusaha menciptakan musik populer dengan sound menggunakan instrumen elektronik seperti drum pads, keyboard, dan sequencer.

Disaat vokal Luise Najib mulai bersenandung syair lagu yang berjudul “Biru” mendadak tata cahaya berubah menjadi biru menyesuaikan judul lagu tersebut. Keintiman mulai dirasakan, diikuti dengan permainan keyboard yang unik menambah daya tarik tersendiri.

Disela lagu-lagu yang dibawakan dia selalu bercerita tentang hidupnya , tentang kesehariannya, tentang teman-temannya. Bahkan dia berbahasa inggris dalam memberikan ceritanya karena sangat menghargai teman-temannya dari luar negeri yang saat itu datang untuk melihat konser dia.

“Aku pernah berjuang menghadapi depresi, serangan panik dan kekosongan yang tidak dapat aku jawab, “ucap Luise disela-sela nyanyiannya. “Pada suatu malam aku terbangun, rasanya seperti berusaha mengingat mimpi, semakin berusaha mengingat semakin kabur ceritanya, hanya melodi-melodi saja yang terngiang samar-samar,” tambahnya. Dan seketika itu juga dia mulai merekam melodi-melodi tersebut. “Winter’s Fault” menjadi judul lagu dari rekaman yang dibuat saat itu. Lagu ini tentang harapan. Tentang seorang yang muncul dihidupnya dan mengubah segala yang ada dengan kepolosannya yaitu kelahiran anak lelakinya. Berbeda dari lagu sebelumnya, Winter’s Fault lebih bernuansa sendu dan tenang. Alunan keyboard yang dimainkan oleh Rizqi Khaitsul menyelimuti warna vokal Luise Najib yang membawa perasaan kita ke dalam ruang yang gelap namun penuh kehangatan. Lagu-lagu yang lain seperti 5 AM, Stranded, Let Me In, The Chills, Love Affair, dan Tattoo Love sukses dibawakannya dengan lembut dan sensual ditambah dengan iringan musik yang indah dan tata lampu yang sangat sesuai dengan suasana lagu.

“People are dancing my mind shuts off, Your bodies seeking, mine fleets above, It’s okay, you don’t have to call up on me, Learned my way, I need not to see” Itu adalah sepenggal syair dari “Audience” lagu terakhir yang menutup konser malam itu. Tepuk riuh penonton memberikan applause kepada penampilan Luise Najib malam itu. 10 lagu sudah di nyanyikan semua dan tak terasa sudah dipenghujung acara.

You may also like...