Hari Tari Sedunia 2019 di Museum Ulen Sentalu

Hari Tari Sedunia 2019

Tari Srimpi Rangu-Rangu ditarikan oleh Kridha Beksa Wirama

Jogjatoday – Hari Tari Sedunia ( World Dance Day) sudah dicanangkan sejak tahun 1982 oleh Lembaga Tari Internasional CID-Counseil International de la Danse. Tujuannya yakni untuk mengajak seluruh warga dunia berpartisipasi dalam menampilkan beragam tarian negara mereka. CID bersama dengan UNESCO menjadi wadah bagi warga dunia untuk mementaskan pertunjukan tari dari budaya mereka. Dengan begitu, diharapkan semua generasi muda dapat terus melestarikan budaya melalui seni tari.

Sosialisasi peringatan hari tari makin gencar dilakukan di awal 2007, yakni dengan berfokus pada anak-anak. CID meminta seluruh anak sekolah untuk berpartisipasi dalam lomba menulis esai tentang tarian di negara mereka, melukis bertemakan tari, hingga lomba menari di jalanan.

Sejak saat itu, Hari Tari makin mendapat ruang dan diapresiasi warga. Banyak pertunjukan tari diadakan untuk memeringati hari tersebut, tidak terkecuali di Indonesia. Di pelosok Indonesia juga ikut bergembira merayakan Hari Tari Sedunia.

Museum Ulen Sentalu Yogyakarta juga ikut berpartisipasi merayakan Hari Tari Sedunia tanggal 29 April mendatang biarpun pertunjukan tarinya di adakan pada Sabtu, 27 April 2019.
Tema yang diangkat untuk tahun ini adalah #GegaraMenari “urip mawa urup, urip hanguripi”. Salah satu pepatah Jawa yang bermakna sangat dalam yaitu, hidup dengan semangat, hidup memberi hidup. Tema ini mencerminkan bahwa dari awal tari telah menjadi entitas yang menyatu dengan kehidupan masyarakat hingga akhirnya tari bisa menghidupi masyarakat, membangun citra bangsa menjadi bangsa yang santun, beradab, mulia dan bermartabat.

Pertunjukan Tari di Museum Ulen Sentalu digelar mulai pukul 10.00 WIB yang menampilkan Tari Manunggaling Rasa oleh Pawiyatan Museum ULan Sentalu kemudian dilanjutkan Tari Corak Ing Canthing dan Suci sang Pencipta oleh Sanggar Tari Lintang Kaliurang. Pengisi berikutnya adalah Sanggar Tari Kridha Beksa Wirama yang menampilkan tari Golek Nawung Asmara dan Tari Srimpi Rangu-Rangu. Kemudian dilanjutkan Tari Wiyama Pancaroma Nuraga oleh grup Candrasa dan di akhiri dengan menari bersama semua penonton dan penari pengisi.

Terlihat antusias penonton yang memadati tempat duduk yang disediakan oleh Museum Ulan Sentalu . Hal ini menandakan bahwa penikmat tari dan penari sudah mulai mengena ke anak-anak muda atau kalangan milenial. Sehingga diharapkan mereka dapat melestarikan warisan budaya dari pendahulu-pendahulunya khususnya tari-tarian nusantara.

You may also like...