Catur Sagatra kembali ramaikan Pagelaran Kraton Yogyakarta

Catur Sagatra 2019

Garuda Jatayu melawan Rahwana untuk membantu Dewi Sinta

Jogjatoday – Sejak diparkiran kendaraan sudah terlihat begitu ramainya pengunjung pagelaran Kraton Yogyakarta malam ini, Semua pengunjung menggunakan bahan batik baik untuk pria maupun wanita. begitu sampai di pintu gerbang banyak sekali pengunjung yang tertahan mengantri untuk masuk. Tapi belum diperkenankan karena menunggu Tamu VIP masuk semua dulu. Begitu sampai di Pagelaran ternyata tidak jauh berbeda dengan di pintu tadi. Banyak sekali tamu yang sudah memenuhi kursi-kursi yang telah di sediakan oleh panitia. Bahkan untuk tempat fotografer atau media juga berjubel. Melihat dari keramaian itu berarti Tari Jawa masih mempunyai daya tari tersendiri bagi masyarakat sekarang. Biarpun panggung masih gelap dan pengrawit belum ditempatnya tetapi semua pengunjung sudah setia menunggu dikursi masing2.

Pagelaran Kraton Yogyakarta malam itu, 13 Juli 2019 sangat penuh dengan orang yang mau menikmati acara rutin setiap tahun Catur Sagatra. Catur berarti empat trah Agung Mataram, Sagatra berarti bersatu untuk menjalin ikatan persaudaraan yang lebih erat melalui kegiatan seni dan budaya,

Seperti pagelaran Catur Sagatra tahun lalu Pagelaran Catur Sagatra kali ini akan mementaskan Kraton Surakarta, Kraton Yogyakarta, Puro Mangkunegaran, dan Puro Pakualaman.

Setelah diawali dengan sambutan oleh wakil Gubernur Yogyakarta KGPAA Paku Alam X dan pemukulan gamelan sebagai diawalinya acara Catur Sagatra 2019 dilanjut dengan penampilan perdana dari Puro Mangkunegaran Surakarta yang menampilkan cerita Sinta Murco.

Fragmen ini menceritakan Raja Alengka prabu Dasamuka adalah raja sakti mandraguna. bahkan para Dewa tak mampu menghadapinya. Ambisinya untuk menguasai jagad raya semakin tampak ketika ia bersikeras untuk memperistri Dewi Widawatiyang menitis pada Dewi Sinta istri Ramawijaya. Dasamuka mengutus Sarpakenaka untuk melakukan siasat licik agar Dewi Sinta yang kala itu berada di hutan Dandaka bersama Rama dan Lesmana, dapat lepas dari perlindungan Rama dan Lesamana. Pada akhirnya Rahwana berhasil menculik Sinta, Garuda Jatayu yang berusaha menghalangi Rahwana akhirnya tewas di tangannya. Rama dan Lesmana dalam pencarian Dewi Sinta berjumpa dengan wanara seta yang menanyakan siapa bapaknya. Rama sebagai titisan Batara Wisnu memberi petunjuk kepada Hanoman sang kera putih untuk pergi ke Suralaya.

Itulah cerita singkat dari fragmen Sinta Murco. dan kemudian dilanjutkan penampilan dari Kraton Yogyakarta dengan judul Subali lena. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.30 ketika penampilan Subali lena berakhir namun pengunjung tidak bergeming dari kursi karena masih ingin menikmati penampilan dari Puro Pakualaman dan Kraton Surakarta.

Pagelaran acara budaya Catur Sagatra ini sangat penting untuk pelestarian warisan budaya. Warisan Seni Tari dari leluhur tidak boleh begitu saja dilupakan atau dihilangkan sehingga harus dijaga dan dilestarikan. Diadakannya acara ini adalah salah satu upaya mengenalkan khasanah budaya di Yogyakarta dan Surakarta secara luas pada masyarakat modern di era globalisasi.(YK)

You may also like...