Flying Cow on Taman Budaya Yogyakarta

Ada Sapi Terbang di Taman Budaya Yogyakarta

Flying Cow on Taman Budaya Yogyakarta
Tessa Wouters (Netherlands) menarikan tarian Flying Cow di Taman Budaya

Jogjatoday – Berawal dari stage yang gelap dan suara jangkrik malam itu Rabu, 16/01/19, dipanggung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta menjadikan berbeda dari hari-hari biasa yang selalu hingar bingar dengan suara musik atau gamelan untuk awalan sebuah pertunjukan tari. Beberapa menit kemudian masuklah seorang penari bernama Gianmarco Stefanelli dari Italy. Dia menari dengan energik bahkan terkesan mirip dengan gerakan tari balet dan kemudian berinteraksi dengan beberapa telur yang kemudian ditangkap olehnya dengan sangkar-sangkar kecil.

Setelah beberapa lama disusul Kaia Vercammen penari dari Belgium yang menari seperti seekor burung dan membawa telur dimulutnya. Mereka berdua menari dengan indah secara berpasangan. Gerakan tarian yang unik untuk orang indonesia khususnya untuk anak-anak. Keintiman itu terlihat sebagai sebuah persahabatan dalam sebuah permainan. Ditengah keintiman permainan kedua anak tersebut datanglah seseorang anak perempuan yang ditarikan oleh Tessa Wouters dari Netherlands. Dengan situasi yang bertiga tersebut akhirnya membuat situasi tegang. Kedua anak perempuan tersebut saling berebut teman dan berebut mainan.

Mereka dihadapkan pada pertanyaan: ketika kamu menjadi bagian dari kelompok beranggotakan tiga orang, siapa yang memilih bermain denganmu?. Diakhir penampilan mereka bisa selaras untuk menari bersama, bermain bersama dan saling berbagi mainan. Di antara telur-telur yang berguling, perempuan yang menyeret dan sapi terbang, Des Stilte mengajak kita memasuki sebuah permainan tentang persahabatan, kesendirian dan kesetiakawanan.

De Stilte merupakan grup tari asal belanda. Malam itu di Concert Hall menampilkan tarian yang berjudul Flying Cow atau dalam bahasa indonesia berarti Sapi Terbang. Jack Timmerman sang koreografer tari ini sangat jeli dalam mengangkat cerita anak kedalam tari-tariannya, bahkan saat menikmati tarian tersebut anak-anak ataupun siapapun yang menonton dituntut untuk berimaginasi sesuai keinginan mereka. Hal inilah yang membuat tarian ini bisa dinikmati siapa aja dan tidak terbatas oleh umur tertentu.

Grup tari De Stilte adalah grup tari profesional yang telah menari untuk dan dengan anak-anak sejak 1994. Berpengalaman di dunia tari internasional, De Stilte tidak hanya menari dan menjadi produser teater anak muda tetapi juga mengembangkan ketrampilan di bidang pendidikan.

Grup tari yang berbasis di kota Breda, Belanda tersebut secara konsisten mengajak anak-anak dan orang tua untuk beranjak dari dunia keseharian ke dunia kisah imajinatif tanpa batas. Mereka percaya pada kekuatan imajinasi yang melampaui keterbatasan fisik. Dengan menjadi bagian dari cerita, dengan mengalaminya atau hanya dengan menggunakan imajinasi, dunia kita akan terasa lebih luas dan akrab. Filosofi itulah yang diusung sang pendiri dan direktur artistik Jack Timmermans. Bersama tim penari yang terlatih secara akademis, De Stilte mempersembahkan pertunjukan yang penuh ambigu untuk semua umur.

Dalam pementasan di Yogyakarta kali ini De Stilte di dukung oleh Erasmus Huis Jakarta. Erasmus Huis adalah pusat kebudayaan Belanda di Jakarta. Erasmus lebih mengarah ke musik, dan ruang seni bagi kolompok seniman belanda dan kelompok indonesia. Sebagian besar acara di Erasmus Huis tidak dipungut bayaran, itulah sebabnya acara tari Flying Cow juga cuma-cuma tanpa tiket masuk. Bahkan untuk pementasan Flying Cow ini Erasmus Huis bekerjasama dengan Organda DIY memberikan transportasi gratis untuk anak-anak panti Asuhan di yogyakarta sehingga mereka bisa datang dengan mudah dan masuk secara gratis.